Pembaca Terbaru

Wednesday, 31 January 2018

Air Manjuto Disedot Perusahaan, Sawah Krisis Air



Sawah Petani Terancam Krisis Air
METRO – Anggota DPRD Mukomuko mencurigai, ada perusahaan yang bergerak di bidang industri sawit menyedot air dari Sungai Air Manjuto. Dampak dari kegiatan ini, sawah petani yang mengandalkan debit Air Manjuto terancam krisis air, karena debit sungai terus berkurang. Terkait hal ini, diminta kepada pihak terkait segera turun menelusuri dan mengambil langkah penyelamatan aliran sungai, agar petani tidak terganggu.
Salah seorang anggota dewan, Frenki Janas mengatakan bahwa ada laporan salah satu perusahaan menyedot sungai di bagian hulu dan sudah diberi izin. Kalau memang benar, maka perlu dikaji ulang, sebab aliran Manjuto merupakan sungai yang menjadi andalan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari dan pertanian. Kalau dibiarkan, dampaknya bakal sangat besar dirasakan warga.
‘’Kami sedang mencari tahu kepastiannya, tapi kabarnya ada perusahaan yang menyedot air sungai, sekarang petani mulai mengeluh karena pasokan air ke sawah terbatas. Selain itu sungai ini andalan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari,’’ katanya.
Ditegaskannya, walau ada aturan dibolehkan mengambil air dengan syarat mendapat izin, tetap harus ada pertimbangan yang matang, terutama berkaitan dengan hajat orang banyak. Apalagi kalau menyedot sungai tanpa izin, ini adalah pelanggaran berat dan wajib ada tindakan hukum.
‘’Dewan akan panggil pihak terkait untuk diminta penjelasannya, karena petani mulai mengeluh, lantaran air di sedot perusahaan. Kalau terus dibiarkan, ribuan petani dan masyarakat bakal susah,’’ tegasnya.
Kabid SDA Dinas PUPR, Sunaji,ST,MT membenarkan adanya perusahaan yang mengantongi izin memanfaatkan air sungai tersebut, yaitu pabrik CPO. Namun karena dirinya belum  lama di posisi ini, maka belum mengetahui sejak kapan dan seperti apa prosesnya.
‘’Memang ada pabrik CPO yang mengambil air di sungai, tapi karena masih baru saya belum mengetahui secara jelas, apakah ada pengaruhnya dengan penyediaan air bagi petani, memang sekarang debit air Manjuto turun,’’ kata Sunaji.
Kepala UPTD Pengairan, Bustri,SP,M.Si dihubungi juga membenarkan adanya perusahaan yang memanfaatkan air Manjuto, yaitu pabrik CPO. Terkait izin dan ketentuan lain, ia tidak menguasai, karena izin langsung dari balai atau kementrian, sedangkan dokumen-dokumen lain melalui SDA Dinas PUPR.
‘’Memang ada perusahaan yang memanfaatkan Air Manjuto, kabarnya itu ada izinnya langsung dari pusat, sesuai aturan berlaku,’’ paparnya.
Terus Bustari juga membenarkan, belakangan ini terjadi penurunan debit air Manjuto secara cepat, setiap hari berkurang hingga setengah meter kubik perdetik. Sekarang debit air antara 6,5 hingga 7 meter kubik perdetik saja dan ini merupakan yang terburuk sejak ia bertugas di wilayah ini. Disinggung soal kemungkinan dampak dari perusahaan yang mengambil air di sungai, Bustari tidak bisa memastikan, semestinya tidak berpengaruh karena pengambilan air oleh perusahaan dibawah bendungan, artinya setelah air dialirkan ke irigasi. Penyebab utama penurunan debit air, lantaran kerusakan alam yang terjadi di bagian hulu sungai, seperti perambahan hutan dan sebagainya.
‘’Sepengetahuan saya, kekeringan sungai saat ini terburuk, setiap hari debit air berkurang hingga setengah meter kubik perdetik, andai kemarau terus belanjut, maka penggunaan air di sawah terpaksa digilir. Kemarin saya langsung turun melakukan pengecekan kondisi sungai,’’ tutupnya.(jar)

Post a Comment