Tuesday, 29 March 2016

Nyaris Ricuh, Tim Patroli Amankan 415 Batang Balok


Diduga Dipanen dari HPT dan TNKS Hulu Manjuto
V KOTO – Sekitar 415 batang balok kaleng jenis meranti dan rimba campuran diamankan oleh tim Patroli yang terdiri dari TNI, pihak Kantor Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) dan dari PT. Sipef Biodiversiti Indonesia (SBI). Diduga kayu ini dipanen oleh pemiliknya dari Hutan Produksi Terbatas (HPT) dan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) wilayah Desa Talang Petai Kecamatan V Koto. Kayu-kayu ini ditemukan oleh tim sekitar pukul 10.30 WIB kemarin. Beredar kabar, tim yang berjumlah belasan orang ini sempat adu mulut dengan oknum warga dan oknum anggota yang diduga ada hubungannya dengan penemuan tersebut, sehingga memaksa Danramil 0423-01 Mukomuko, Kapten Inf Ramelan turun langsung ke lokasi. Namun semuanya tidak menurunkan semangat tim Patroli, sehingga kayu-kayu ini langsung diangkut ke Markas Komandan Rayon Militer (Makoramil) 0423-01 Mukomuko. Yang jelas, penemuan ini mempertegas jika para perambah hutan masih merajalela.
Kronologis penemuan kayu, berdasarkan data terhimpun, pada Senin dan Selasa (28-29/3) tim yang berjumlah 15 personil melakukan patroli di kawasan HPT yang ada di Kabupaten Mukomuko. Hari pertama patroli dilakukan di wilayah Selagan Raya, mereka menemukan puluhan Hektare (Ha) HPT dalam kondisi rusak. Kemarin tim yang terdiri dari 2 personil TNI, 5 orang dari KPHP dan 8 orang dari PT. Sipef melakukan patroli di wilayah HPT Kecamatan V Koto. Dalam perjalanan tim menemukan ratusan kayu sedang dihanyutkan di aliran sungai Manjuto. Mengetahui kedatangan petugas, warga yang sedang menghayutkan kayu lari tunggang langgang. Anggota patroli langsung berupaya menyelamatan Barang Bakti (BB) yang hanyut terbawa arus. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk kabur oleh oknum warga yang diduga menjadi pekerja Illegal Logging. Sebelum kayu-kayu tersebut diangkut oleh petugas, 3 orang yang diduga pemilik kayu datang ke lokasi. Masing-masing berinisal Kt, warga Kecamatan Air Manjuto, Mo warga Lubuk Pinang dan He yang diduga oknum anggota. Kedatangan Kt yang mengemudikan truck bermaksud menjemput kayu miliknya. Setelah mengetahui kayunya ditangkap petugas Ia balik badan dan kabur. Sedangkan kedatangan Mo membawa dokumen izin yang berkaitan dengan kayu miliknya. Penjelasan Mo tidak diterima begitu saja oleh tim patroli akhirnya Mo pulang dengan tangan hampa. Lain halnya dengan He, Ia menentang petugas yang akan menyita kayu miliknya, hal ini membuat ribut mulut bahkan nyaris adu fisik. Setelah kondisi kondusiv, kayu-kayu tersebut diangkut dengan menggunakan 7 truck, menuju Makodim untuk diamankan.
Dandim 0423 Bengkulu Utara, Lektol. Czi Syaiful Rahman melalui Danramil 0423-01 Mukomuko, Kapten Inf. Ramelan membenarkan penemuan kayu ini. Ramelan menyampaikan, kayu-kayu tersebut diamankan sambil menunggu proses lebih lanjut. Terkait adanya pihak yang diduga mendatangi petugas setelah kayu diamankan dan sempat protes, ia juga membenarkan sempat nyaris ricuh dengan oknum anggota. Namun setelah dilakukan penjelasan akahirnya dipahami dan kayu diangkut.
‘’Memang benar ada penangkapan kayu yang diduga hasil Illegal Logging. Kayu tersebut ditemukan di sungai Manjuto, oleh tim patroli yang terdiri dari TNI, KPHP dan PT. SBI, sekarang belum tahu siapa pemilik sebenarnya, masih didalami. Memang ada yang sempat protes tapi tidak ricuh,’’ jelas Ramelan didampingi Serma. Zudedi yang diketahui sebagai ketua tim operasi TNI AD Mukomuko.
Ketua DPRD Mukomuko, Armansyah,ST yang kebetulan rumah pribadinya masih di kawasan ini, juga mengaku mendapat kabar penangkapan tersebut. Juga ada isu sempat adu mulut antara tim dengan oknum lain, entah apa persoalannya, ia kurang mengetahui.
‘’Memang ada kabarnya, sebab di desa saya sudah banyak yang cerita, tapi bagaimana jalannya kita belum paham,’’ tuturnya.
Terpisah, Kapolres Mukomuko, AKBP Andhika Vishnu, S.Ik mengaku belum mengetahui secara pasti, proses penemuan kayu. Juga soal isu adanya adu mulut dan nyaris ricuh, Kapolres belum dapat kabarnya.
‘’Saat operasi patroli, tidak melibatkan polri, jadi kita tidak tahu kondisi dan kejadian di lapangan. (dul)