Tuesday, 11 August 2015

Wismen Makin Dekat dengan Kursi Nomor 1


METRO – Walau dikategorikan baru bergerak dan terkesan dadakan, namun langkah Ir. Wismen A Razak menuju BD 1 N Mukomuko makin dekat. ‘’Bendera perubahan’’ yang diusungnya terus menjulang tinggi, dukungan dari masyarakat mengalir deras, baik kalangan bawah maupun menengah ke atas. Terutama pemilih muda atau pemilih pemula, mereka begitu terkesan dengan sosok Wismen yang energic dan meyakinkan.
Fakta di lapangan, menurut penilaian dan prediksi banyak pihak, baik yang mendukung ataupun yang netral, Wismen yang awalnya jauh dibawah kepepuleran calon lainnya, sekarang berubah total. Nama dan wajahnya mulai begitu akrab di tengah masyarakat. Apalagi kemampuannya berkomunikasi dengan pihak pusat, baik kalangan pemerintah, swasta, politisi bahkan artis, membuat warga semakin yakin, Wismen mampu mewujudkan perubahan besar untuk kebaikan daerah ini.
Salah seorang anggota dewan dari PPP, Ojek Warman mengatakan sekarang posisi dukungan untuk Wismen-Bambang terus melonjak tajam. Masyarakat semakin yakin dengan sosoknya. Dari pantauan di lapangan, pemilih pemula sebagian besar mengarah ke Wismen, bahkan pendukung calon lain mulai goyah dan siap beralih ke Wismen.
‘’Kondisi di lapangan memang begitu, kebetulan saya berjalan menemui masyarakat di berbagai tempat. Sosok Wismen cukup familiar saat ini, padahal seperti diketahui awalnya kandidat lain yang banyak disebut-sebut,’’ ungkapnya.
Ketua DPC NasDem Mukomuko, Busril juga menegaskan jika Wismen adalah calon yang akan memenangi Pilkada. Terlihat dari besarnya arus dukungan masyarakat dan juga partai politik untuk dirinya. Karena target dari awal menang, maka sampai pemilihan tim Wismen dan partai pengusungnya tidak akan menurunkan gas.
‘’Sekarang saja sudah demikian, apalagi kedepannya. Dengan amunisi yang cukup dan semangat semua tim dan partai pengusungnya, bendera Wismen akan terus berkibat deras hingga akhir,’’ tutupnya.(jar)

Pemerintah Terima Rapor Merah
//Hasil Laporan Pansus LAMJ Bupati
METRO – Anggota DPRD Mukomuko memberi raport merah pada kinerja pemerintahan Drs. H Ichwan Yunus,CPA,MM dan Choirul Huda,SH. Penilaian ini diberikan dari hasil laporan Panitia khusus (Pansus) Laporan akhir masa jabatan bupati yang sedang dibahas. Dewan menilai, laporan akhir bupati tak sejalan dengan kondisi riil yang ada di lapangan.
Ketua DPRD Mukomuko, Armansyah,ST mengatakan sesuai isi laporan pemerintah dan dibahas Pansus, pihaknya menilai program pemerintah selama ini tak berjalan dengan baik dan banyak yang mubazir. Rencana yang dibuat hanya bagus di atas kertas, sementara pelaksanaan dan hasilnya jauh dari harapan. Ini cukup mengejutkan dewan dan sangat perlu menjadi bahan evaluasi kedepannya.
‘’Kita layak memberi rapor merah pada pemerintahan sekarang, laporan akhir jabatan jauh dari harapan selama ini. Rencana tidak berjalan dengan maksimal dan hasilnya jauh dari baik,’’ kata politisi Gerindra ini.
Hal-hal besar program daerah yang dicontohkannya tak berjalan sesuai rencana dan terkesan mubazir cukup banyak. Diantaranya program Mukomuko hijau, menghabiskan sekian banyak anggaran, sementara hasil akhirnya tak jelas. Pohon-pohon yang ditanam sebagian besarnya mati dan terkesan asal tanam. Berikutnya program penanaman jarak, juga hanya buang-buang tenaga dan dana. Termasuk program produksi tortilla, sudah memakan begitu banyak dana, hasilnya tidak bagus. Ini dampak dari kurang pahamnya pemerintah terhadap potensi daerah yang sebenarnya. Lebih mengejutkan lagi, pemda menolak raskin, sementara menerima 9 miliar bantuan keluarga idaman sejak 2013. Jumlah masyarakat Miskin di Mukomuko masih cukup banyak, bahkan termasuk termiskin.
‘’Ini dampak pemerintah kurang rencana dan mencontoh daerah yang kondisinya berbeda dengan Mukomuko. Mana nyambung budi daya jarak, kerupuk tortilla dan lainnya dengan Mukomuko. Kita ini daerah sawit, padi dan karet, semestinya ini yang digiatkan. Buat program pembibitan misalnya, agar kebun warga berkualitas. Entas kemiskinan juga tidak ada hasilnya, jumlah warga miskin masih banyak, program keluarga idaman juga hasilnya apa. Kami menilai laporan benar-benar tidak sesuai. Memang ada yang berhasil, seperti pengembangan jalan usaha tani dan jalan desa lainnya,’’ tegas Armansyah.
Ketua Pansus akhir masa jabatan bupati, Hermansyah,M.Kom juga mengakui beberapa laporan terlihat jelas ketidak berhasilan pemerintah. Termasuk di sektor pendidikan dan pemberantasan kemiskinan masyarakat. Ini dampak dari perencanaan kurang baik dan juga eksekusi di lapangan tidak maksimal.
‘’Khusus untuk indikator mensejahterakan dan pendidikan memang sangat jauh, walau sebagian program lainnya berhasil. Dari laporan awal, hingga akhir terlihat jelas, bagaimana pelaksanaan dan finishnya,’’ tutup Hermansyah.(jar)


Dukungan Pemilih Masih Labil

//Kekuatan Tiga Kandidat Berubah-Rubah
METRO – Peta politik menuju pemilihan bupati dan wakil bupati Mukomuko masih sulit diprediksi. Baru sekitar 30 persen masyarakat yang mulai mengarahkan dukungannya kepada pasangan calon, sebagiannya terbaca masih labil. Dalam arti setiap saat bisa berubah pilihan. Sementara sebagian besar warga, terutama petani dan buruh harian yang sibuk dengan kegiatannya, sama sekali belum tertarik dengan isu politik.
Beberapa orang masyarakat petani yang mempunyai hak pilih dibeberapa desa saat ditanyai soal politik menjawab hampir serupa. Seperti dikatakan Meria, ia mengaku sama sekali belum tahu soal isu politik. Namun ia mengetahui akan ada pemilihan bupati dalam waktu dekat. Padahal seperti diketahui, tak kurang dari 40 persen masyarakat Mukomuko petani, kegiatannya yang sama dengan Maria.
‘’Ada dengar-dengar orang mau milih bupati, tapi kami belum tahu mau milih siapa, kalau dapat suratnya kami milih. Siapa saja bupati saya tidak jadi pegawai mas,’’ paparnya polos, sama dengan warga lainnya.
Mantan caretaker bupati Mukomuko, Ir. Gafrie Zainuddin mengakui jika saat ini kondisi politik masih labil. Pernyataan dukung mendukung, baru keluar dari sebagian kecil masyarakat saja. Khusus warga yang ada di desa-desa dengan perekonomian dan pengetahuan soal politik standar, mereka belum menentukan pilihan, bahkan sama sekali tidak tertarik untuk membahas soal politik.
‘’Kalau sekarang ada yang mengatakan sudah bisa mendapat dukungan sekian persen, itu sama sekali tidak masuk akal. Masyarakat saja belum peduli soal pelih memilih calon. Memang pernyataan dukung-mendukung sudah terdengar, tapi itu baru dari segelintir orang yang ada sekitar calon. Misalnya yang dilibatkan dalam tim pemenangan dan sebagainya. Sementara sebagian besar pemilih adanya di desa-desa,’’ tutur Gafrie.
Terkait dengan peluang masing-masing kandidat, tokoh yang baru saja pindah domisili secara permanen di Mukomuko ini menilai, tiga pasangan calon bupati Mukomuko tersebut punya kans yang sama. Memang pada awalnya ada yang sedikit unggul, namun seiring waktu perimbangan mulai terlihat, seiring dengan berbagai menuver politik di lapangan.
‘’Kalau sekarang saya menilai kans tiga pasangan calon ini sama, calon yang awalnya dianggap kuat mulai dikejar oleh kandidat lainnya. Yang akan menentukan kinerja tim dan kesiapan amunisi dari kandidat itu sendiri,’’ tuturnya.
Menurut Ketua DPC Hanura Kabupaten Mukomuko, Hermansyah, M.Kom, dari tiga Paslon Bupati dan Wakil Bupati Mukomuko belum ada yang signifikan mendapatkan dukungan masyarakat. Semuanya memiliki basis suara, bahkan masih dikategori imbang. Ia mengakui, masyarakat sudah cerdas untuk menentukan pilihan. Siapa yang patut didukung, pada prinsipnya sudah ada di hati masyarakat. Dari segi kans, ia akui tiga Paslon semuanya memiliki kemampuan untuk memimpin daerah ini.
‘’Semua pasangan calon memiliki basis suara. Tak bisa dipungkiri, untuk masyarakat Jawa lebih dominan mendukung Choirul Huda-Haidir. Begitu juga dengan Sapuan-Dedy dan Wismen-Bambang, lebih dominan pendukungnya dari kalangan pribumi. Tinggal lagi bagaimana mereka memoles lumbung suara itu untuk menarik simpatik pemilih. Dalam berpolitik, tidak ada jaminan masyarakat Jawa harus pilih Jawa dan pribumi harus pilih pribumi,’’ kata Hermansyah.
Jika dihitung dari kekuatan Paslon, untuk menjadi pemenang cukup meraih suara sah 35 persen. ia memperkirakan, tiga pasang calon ini, selisih perolehan suara tidak begitu signifikan.
‘’Raih 35 persen suara sudah menang. Setelah membaca kekuatan politik dari tiga pasangan ini, perolehan suara tidak begitu signifikan. Selisih suara pemenang, berkisar 3 hingga 5 persen dari jumlah suara sah. Sedangkan jumlah suara batal dan tidak menggunakan hak pilih, bisa mencapai 10 hingga 15 persen,’’ pungkasnya.(jar/nek)