Friday, 4 April 2014

Waspada Tsunami, Warga Mengungsi


METRO – Merebaknya informasi peringatan dini akan terjadinya gelombang pasang tsunami kiriman di 115 lokasi kabupaten/kota dari 19 provinsi di Indonesia, termasuk di Kabupaten Mukomuko sebagai dampak gempa bumi besar berskala 8,2 SR pada kedalaman 10 Km di Pantai Utara Chili atau 240 Barat laut Bombay India pada Rabu (2/4) pukul 06.46 WIB yang mengakibatkan tsunami setinggi 1,92 meter sempat membuat panik  mayoritas masyarakat.
Malahan sejumlah warga yang tinggal di tepi pantai Mukomuko sempat mengungsi ke tempat yang aman. Beberapa sekolah pun terpaksa meliburkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Termasuk sebagian pegawai di lingkungan pemkab memilih tidak ngantor karena khawatir tsunami benar-benar datang melanda. 
Sesuai dengan peringatan dini tsunami yang dikeluarkan Tsunami Early Warning Center (InaTEWS) di BMKG, tsunami akan sampai ke Indonesia pada kemarin, dimulai sejak pukul 05.11 WIB hingga 19.44 WIB. Status peringatannya adalah waspada. Peringatan dikeluarkan berdasarkan analisis penjalaran tsunami. Kabupaten Mukomuko sendiri dijadwalkan terkena tsunami pada pukul 09.24 WIB.
Setelah sempat dilanda kecemasan dan kepanikan selama semalaman, masyarakat Mukomuko bisa bernapas lega. Ini setelah dicabutnya peringatan dini tsunami oleh pihak BMKG dan juga BNPB, terhitung mulai kemarin pada pukul 08.30 WIB. Dasar pencabutan peringatan adalah hasil analisis data monitoring alat observasi tinggi muka air laut di wilayah Papua. Dimana dari analisis sebelumnya, daerah di pesisir di Provinsi Papua seperti Kota Jayapura, Jayapura, Sarmi, Waropen, Biak Numfor, dan Supiori akan berpotensi terjadi tsunami pada pukul 05.11 hingga 05.51 WIB.
‘’Ya surat peringatan dini tsunaminya sudah dicabut pagi tadi (kemarin, red). Peringatan dini tsunami dinyatakan telah berakhir untuk seluruh wilayah Indonesia termasuk Kabupaten Mukomuko. Mukomuko dan wilayah lain di Indonesia kembali dinyatakan dalam status aman,’’ terang Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mukomuko, Drs.H Nurngubaidi melalui Supervisor Pusdalops-PB, Hitatun.
Sebelum dicabutnya peringatan dini tsunami, Pemkab Mukomuko melalui Sekdakab, Syafkani, SP dan BPBD telah mengedarkan surat. Surat ditujukan pada seluruh camat dalam wilayah Kabupaten Mukomuko. Pointer penting yang mesti diteruskan camat pada masyarakat, terkhusus yang bermukim di tepi pantai adalah tidak melaksanakan aktivitas serta menjauhi kawasan pesisir pantai dan tepian sungai.
Kenyataannya, dari pantauan Radar Mukomuko (RM) terdapat nelayan yang tetap nekat melaut. Sebagaimana dikuatkan oleh pernyataan Ketua RT 3 Kelurahan Koto Jaya, A Japar. Dimana memang beberapa nelayan Pantai Indah Mukomuko (PIM) tetap berangkat melaut, hanya jumlahnya tidak banyak. Penyebabnya lantaran sejak pagi cuaca mendung, bukan khawatir tsunami. 
‘’Hari ini (kemarin, red) memang tidak banyak nelayan yang pergi melaut. Selain karena sudah dua hari ini nelayan tidak mendapatkan ikan, cuaca sejak pagi hari juga sangat mendung,’’ kata Japar. 
Sementara, Koordinator Kelompok Masyarakat Penanggulangan Bencana (KMPB) Kabupaten Mukomuko dan juga anggota Tagana, Rudiyansyah membenarkan adanya warga yang telanjur panik lalu memutuskan berkemas diperkirakan menuju tempat pengungsian yang aman.
‘’Hasil pantauan kita di kawasan PIM pagi tadi (kemarin, red) ada beberapa warga yang panik dan mereka sudah meninggalkan rumah menuju ke arah tempat pengungsian lebih tinggi dari daerahn pantai. Namun sebagian diantaranya, masih melanjutkan aktivitas seperti biasanya. Nelayan ada yang melaut dan juga para pekerja jemuran ikan ada yang tutup dan ada yang tetap beraktivitas seperti sedianya,’’ urai Rudi yang juga berdomisi di PIM ini.
Rudi menambahkan, mereka yang sempat mengungsi tak sampai berlama-lama meninggalkan rumah. Menjelang siang, mereka kembali pulang setelah didapat kabar tsunami tidak benar-benar terjadi.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Mukomuko, Dra. Nurhasni, M.Pd melalui Kepala Bidang (Kabid) Dikmen, Apani, M.Pd membenarkan bahwa banyak siswa yang pulang lebih awal  sebelum jam pulang. Ini tanpa adanya instruksi dinas dan sekolah. Mereka para siswa pulang sendiri, sebagian dijemput oleh keluarga dan orang tuanya masing-masing.
‘’Memang kita menerima laporan bahwa adanya siswa yang pulang sebelum jam sekolah. Tetapi belum ada data pasti yang diterima berapa jumlahnya. Anak-anak (siswa, red) pulang langsung dijemput orang tua dan keluarganya, dan itu bukan instruksi dinas dan sekolah,’’ ungkap Apani.
Apani menambahkan, mestinya orang tua wali murid harus menunggu intruksi dari pihak terkait, baru membawa pulang anaknya. Sebab terkait isu bencana ini tidak bisa diperkirakan begitu saja, ada langkah dan kajian tertentu melalui instansi berwenang.
‘’Kedepannya jika ada informasi mengenai bakal terjadi bencana tsunami, orang tua wali murid jangan langsung mengambil sikap dan menjemput anak, tunggu perkembangan informasi. Sebab itu sudah ada dinas khusus yang melakukan pemantauan. Kalau status waspada, ini belum darurat, sebab kita selalu dituntut waspada setiap harinya,’’ jelas Apani.(nek/dum)

3 Rumah Diamuk Si Jago Merah
METRO – Tiga rumah warga Kelurahan Pasar Mukomuko masing-masing Hamdani, Nur Fatmawati dan Dahlina diamuk si jago merah. Peristiwa yang terjadi pada pukul 10.15 WIB itu sontak membuat heboh warga dan membuat macet arus lalu lintas Jalan Jenderal Sudirman. Berdasarkan informasi, api pertama kali muncul dari rumah Hamdani, persisnya bagian dapur. Dari situ api menjalar ke rumah tetangga. Jika tidak cepat dipadamkan, api dipastikan merembet ke rumah lain di lokasi yang tergolong padat pemukiman. Api sendiri berhasil dijinakkan berkat kerjasama warga dan petugas PBK berselang satu jam kemudian.
Kapolres Mukomuko, AKBP. Wisnu Widarto, S.Ik yang terjun langsung ke TKP bersama Kabag Ops, Kompol. Laba Meliala, S.IK, Kasat Reskrim, AKP. Douglas Mahendra Jaya, SH, S.IK dan Kapolsek Kota Mukomuko, AKP. Yun Iswandi belum dapat menyimpulkan penyebab kebakaran. Pihaknya akan melakukan penyelidikan dengan olah TKP lanjutan dan memintai keterangan saksi.
‘’Belum tahu, kita akan menyelidikinya dulu,’’ kata kapolres.
Sementara salah seorang pemilik rumah yang ikut terbakar, Nur Fatmawati mengatakan, saat kejadian dirinya tengah berada di rumah menjaga warung sayuran. Tiba-tiba asap tebal menyelimuti rumah Hamdani yang berada persis di samping rumahnya. Sontak Nur panik dan berlari keluar sembari berteriak minta tolong. Warga berbondong-bondong membantu mengevakuasi seisi rumah agar tidak terbakar.
‘’Saya saat itu sedang duduk di depan rumah sekaligus menjaga warung. Tiba-tiba saja saya lihat asap tebal datang dari samping rumah,’’ ujar Fatmawati.
Anak dari empunya rumah lainnya, Dahlina, Syafrizal, SH yang juga selaku Kabid Pencatatan Sipil Disdukcapil Kabupaten Mukomuko menjelaskan dirinya mendapat kabar rumah orangtuanya terbakar saat berada di toko.
‘’Saya saat itu sedang belanja di toko lalu ada telepon yang memberitahu kalau rumah ibu kebakaran. Saya pun langsung bergegas  pulang,’’ ungkap Syafrizal yang ikut berjibaku memadamkan api bersama warga.
Sementara Aprizaldi, menantu dari Nur Fatmawati belum dapat menaksir jumlah total kerugian akibat musibah kebakaran yang diderita. Sekadar gambaran saja, seluruh perabotan rumah seperti, lemari, kasur dan tempat tidur serta sebagian surat-surat berharga tak luput dari lalapan api.
Keno Ctarevenza, S.Pd, guru SDN 7 SP 10 Desa Rawa Bangun, Kecamatan XIV Koto yang tinggal bersama Hamdani di rumah tersebut ikut merasakan kehilangan harta bendanya. Dia mengaku hanya tinggal baju sehelai dibadan saja, sementara barang-barang miliknya beserta surat berharga yang berada di dalam rumah tersebut ikut ludes terbakar.
‘’Sertifikat rumah dan tanah milik orang tua saya, ijazah dari SD hingga sarjana dan sejumlah uang milik saya tidak bisa diselamatkan lagi. Termasuk barang-barang elektronik dan pakaian, semuanya tidak ada lagi. Tinggal baju sehelai di badan saja,’’ terang Keno.
Keno menambahkan, seingatnya sebelumnya meninggalkan rumah pada paginya, dia dan pamannya, (Hamdani, red) tidak ada menyalakan kompor di dapur.
‘’Di dalam rumah itu ada kami bertiga, saya, Hamdani dan satu orang anak kos. Saat kami tinggalkan rumah, tidak ada kompor hidup. Sebab biasanya kami memasak setelah pulang kerja,’’ ujar Keno.
Di lain sisi, tadi malam, pihak Dinsosnakertrans Kabupaten Mukomuko melalui Kasi Bansos, Dafrizal, S.Sos didampingi stafnya, Despardi  langsung menyalurkan bantuan pada korban kebakaran. Adapun bantuan yang disalurkan berupa beras, matras, family kid, food ware, roti, lauk pauk, pakaian, selimut, mie instant, sarden, kuali, tas kid ware, dandang dan terpal.(dum/nek)

Purna Bhakti Dewan Setara 3 Bulan Gaji
METRO – Kendatipun masa jabatan 25 orang anggota DPRD Kabupaten Mukomuko baru akan berakhir di bulan Agustus mendatang, namun sekretariat DPRD sudah menyiapkan dana purna bhakti untuk pengabdian para wakil rakyat itu selama menjalankan tugasnya. Konon besarannya setara dengan gaji pokok dewan selama tiga bulan. Sejauh ini belum dapat dipastikan pihak sekretariat apakah yang bakal diberi berupa uang tunai ataukah berbentuk barang.  
Sekretaris Dewan (Sekwan), Drs. H Bustari Maler, M.Hum mengatakan purna bhakti bagi anggota dewan ini diatur dalam undang-undang yaitu senilai dengan tiga bulan gaji pokok, kemudian ada tambahan dana lain. Jadi kisaran dana yang diterima seorang anggota dewan itu Rp 8 juta hingga 9 juta per orangnya. Setiap periode dana tersebut dikeluarkan oleh pemerintah, sebagai bentuk penghargaan terhadap kerja anggota dewan selama menjabat.
‘’Kalau total anggarannya saya juga kurang ingat, namun yang jelas gaji pokok dikali 3 per orang dewan, dana itu dianggarkan sesuai aturan yang berlaku dan diberlakukan seluruh Indonesia,’’ kata sekwan.
Waka I DPRD Kabupaten Mukomuko, H Yusmardi, SH dimintai keterangannya membenarkan bahwa pemberian purna bhakti ini mengacu pada undang-undang yang berlaku. Jumlahnya tidak besar, sebab dikali dengan gaji pokok bukan penerimaan dewan perbulan.
‘’Kalau sebelumnya gaji pokok dikalikan selama tiga bulan. Kalau saya tidak salah tidak besar jumlahnya. Itu sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa pada anggota dewan saja,’’ paparnya.
Salah seorang eks anggota dewan asal Dapil III, Sadariun, S.Pd mengakui di akhir masa jabatannya ada menerima dana purna bhakti.  Namun ia sendiri sudah lupa berapa jumlah totalnya, yang jelas hitungannya adalah gaji pokok dewan selama 1 bulan.
‘’Memang semasa kami dulu ada bantuan tersebut, entah gaji pokok dilaku 4 atau dikali 6 bulan saya kurang ingat,’’ tutupnya.(jar)