Friday, 7 March 2014

Mukomuko New 2



4 Orang PSK dan 3 Pria Hidung Belang Diangkut
Lagi, Polsek Lubuk Pinang Bongkar Tempat Esek-Esek
24 JAM LUBUK PINANG – Untuk memberi rasa nyaman bagi masyarakat, jajaran Polsek Lubuk Pinang terus bergerak. Jika sebelumnya Polsek bersama anggotanya menutup sebuah Kafe yang diduga meperjualbelikan miras dan menyediakan wanita penghibur. Kemarin giliran tempat urut tradisional yang digrebek. Alhasil 4 orang wanita diduga Pekerja Seks Komersial (PSK) dan 3 laki-laki hidung belang berhasil diamankan. Termasuk seorang mucikarinya diangkut ke Mapolsek Lubuk Pinang. Adapun lokasi tempat diduga mesum berkedik urut tradisional ini, di Desa Lubuk Pinang atau pinggir jalan menuju salah satu pabrik CPO setempat.
Masing-masing yang diamankan tersebut, Ri (40), Ye (25) dan Mi (26) ketiganya mengaku asal Kota Bengkulu dan Sa (26) dari Seluma. 3 Pria hidung berlang yang digrebek bersamaan adalah R, (28) dari Silaut, I (26) dari Kecamatan XIV Koto, dan M (35) dari XIV Koto. Sedangkan pria yang diduga sebagai Mucikari berinisal Mu Warga Sungai Serik.
Kapolres Mukomuko, AKBP. Wisnu Widarto, S.Ik melalui Kapolsek Lubuk Pinang Iptu. I Mades Indra Wijaya, SH membenarkan, penggerekan dilakukan malam kemarin sekitar Pukul 21.30 WIB. Aksi ini berawal dari laporan warga yang merasa resah atas keberadaan tempat urut tradisional tersebut. Terang saja, saat anggota tiba di TKP, ditemukan 4 wanita diduga PSK tersebut dan 3 pria hidung belang. Mereka tidak bisa mengelak lagi, bahkan salah satu pasangan diketahui tengah berduaan dalam sembuah ruangan. Rencananya 4 wanita ini akan dikembalikan ke tempat asalnya, sedangkan para pria hidung belang ini akan diserahkan kepada keluarganya. Sementara mucikarinya akan diproses sesuai dengan aturan yang berlaku.
‘’Dari pengakuan salah satu wanita itu, sekali main tarifnya berkisar Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu. Sebagian dikasihkan ke mucikari dan sebagian lagi sebagai jasa pelayanan. Untuk mucikarinya akan kita laukan proses hukum. Kita jerat dengan pasal 296 sub pasal 506 KUHP. Dengan ancaman 1,4 tahun,’’ terang Made.
Ketua karang taruna Desa Arah Tiga, Kecamatan Lubuk Pinang, Andun mengakui jika tempat pijat plus-plus tersebut sudah ada sejak lama. Namun selama ini tidak pernah tersentuh oleh aparat. Keberadaan pijat tradisional ini juga sangat meresahkan warga. Maka atas pengerebekan ini, masyarakat sangat mengapresiasi kinerja Kapolsek Lubuk Pinang yang baru.
‘’Kalau tempat pijat yang ada di Lubuk Pinang itu sudah ada lebih dari 8 tahun. Sebelum kafe didirikan tempat pijat itu sudah ada. Sekarang juga ada satu lagi yang baru buka,’’ pungkas Andun.(dul)

Dinsosnaketrans Janji Sambangi Sulimin
24 JAM XIV KOTO – Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnaketrans) berjanji segera mendatangi, rumah Sulimin (57) yang menderita stroke. Tujuannya untuk meninjau dan mencari informasi falid mengenai kondisi korban dan keluarganya. Tak menutup kemungkinan pemerintah daerah akan membantu Sulimin dan keluarga sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Mukomuko, HM.Badri Rusli, SH mengatakan, mereka ingin melihat langsung kondisi Sulimin dan kehidupan mereka. Banyak program pemerintah yang bisa membantu warga miskin yang menderita sakit yang bisa diberikan kalau memang dibutuhkan. Selama ini dinas belum mengetahui adanya penderita stroke sebagaimana yang diinformasikan media.
‘’Besok atau lusa, paling lambat senin kami akan datang langsung ke rumah Sulimin. Untuk mengetahui kondisinya, setelah itu baru diketahui apa yang bisa diperbuat pemerintah,’’ ungkap Badri.
Anak sulung Sulimin, saat ditemui ditempat kerjanya, mengaku tidak bisa berbuat banyak. Demi membantu keluarga, gadis yang baru saja menamatkan SMP ini berencana segera menikah. Harapannya setelah menikah dapat membantu keluarganya termasuk untuk mengobati bapaknya yang sakit. Ia dan keluarganya sangat berharap pemerintah atau ada dermawan yang bisa ikut membantu kemalangan keluarganya ini.
‘’Sekitar 10 hari lagi, Saya akan segera bertunangan, pernikahannya direncanakan awal tahun ini,’’ ungkap gadis berkulit hitam manis ini.
Untuk diketahui sebelumnya, Sulimin sejak 5 bulan lalu, divonis menderita stroke. Jangankan untuk mencari nafkah, pria malang ini, sekarang hanya bisa terbaring di tempat tidur. Untuk makan sehari-hari mereka mengandalkan pemberian dari tetangga dan dibantu hasil kerja anak sulungnya Mutia (18) yang terpaksa putus sekolah. Sulimin hanya bisa berbaring di tempat tidurnya, badannya tak bisa digerakkan bahkan suaranya sulit keluar. Namun ia tak henti mengeluarkan air mata, karena melihat kondisi keluarganya dan anaknya yang harus putus sekolah.(dul)

Bina Keluaga untuk Wujudkan Penduduk Berkualitas 

//Novizar : Kita Libatkan Banyak Unsur
METRO – Persoalan kependudukan tidak hanya sebatas pengendalian jumlah penduduk.  Yang tak kalah pentingnya, bagaimana meningkatkan kualitas penduduk itu sendiri. Untuk itu Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan (BKKB-PP) Kabupaten Mukomuko, punya rencana besar kedepannya. Berbagai program untuk mewujudkan penduduk berkualitas ini akan dilaksanakan sesuai Instruksi Bupati Drs. H Ichwan Yunus, CPA MM dan program yang dilaksanakan secara nasional.
Kepala BKKB-PP Kabupaten Mukomuko, Drs. Novizar Eka Putra menerangkan, beberapa waktu lalu mereka sudah melakukan rapat koordinasi dan mendapat bimbingan dari BKKB Provinsi Bengkulu. Secara keseluruhan program pemerintah kedepan untuk kependudukan ini, adalah bagaimana meningkatkan kualitas keluarga. Banyak program kedepan akan dilakukan untuk mewujudkannya. Penduduk yang hebar berasal dari keluarga yang kuat, maka target utama adalah bagaimana membangun keluar yang baik. Untuk melaksanakan semua ini, Novizar mengaku tidak mungkin bisa bekerja sendiri, butuh peran besar dari banyak lembaga, terutama TP-PKK, unsure kesehatan, kelompok pemerhati rumah tangga, lembaga pendidikan, dan lembaga lainnya, termasuk tokoh masyarakat dan tokoh perempuan.
‘’Meningkatkan kualitas penduduk itu sangat penting, sesuai petunjuk kami berusaha melakukan yang terbaik. Pada dasarnya jauh sebelum itu, kami sudah punya wacana yang sedemikian, maka sesuai perintah bapak bupati, kami yakin bisa melakukannya,’’ kata Novizar.
Penekanan untuk giat KB dan Vasektomi serta program keluarga lainnya. BPJS merupakan salah satu wujud untuk meningkatkan kualitas penduduk, dimana kedepan program KB dibebankan pada BPJS. Sebab langkah awal mewujudkan penduduk yang baik adalah dengan meningkatkan kualitas keluarga. Keluarga yang kuat akan menjalan fungsinya dengan baik. Diantaranya fungsi keorganisasian, fungsi sosial, fungsi budaya, fungsi pembangunan, fungsi pendidikan, fungsi ekonomi dan fungsi lainnya.
‘’Kalau semua ini berjalan kami yakin, kemajuan yang diidamkan tercapai dengan baik. Untuk mencapai ini kami akan melakukan beberapa langkah awal, pertama perlu persiapan tenaga yang profesional. Juga peran serta dari ketua PKK yang selama ini aktif di masyarakat terutama menyangkut dengan perempuan atau rumah tangga sangat besar, dan kita akan masuk melalui berbagai kegiatan lain dan kelompok masyarakat, sebab semua kita punya peran,’’ tutupnya.(jar)

Andalkan Tetangga, Anak Putus Sekolah

//Penderita Stroke Butuh Perhatian
XIV KOTO – Dengan maksut ingin merubah nasib, 3 tahun silam, Sulimin (57)bersama anak dan istrinya, meninggalkan kampung halaman mereka Bangka Belitung (Babel). Ia pindah ke Mukomuko, tepatnya di Desa Dusun Baru Pelokan, Kecamatan XIV Koto. Namun tampaknya, harapan itu belum terwujud. 5 bulan lalu, tulang punggung bagi istri dan 3 orang anaknya ini, divonis menderita stroke. Jangankan untuk mencari nafkah, pria malang ini, sekarang hanya bisa terbaring di tempat tidur. Untuk makan sehari-hari mereka mengandalkan pemberian dari tetangga dan dibantu hasil kerja anak sulungnya Mutia (18) yang terpaksa putus sekolah.
Saat Crew Radar Mukomuko mengunjunginya, Sulimin tampak terbaring lemah di atas tempat tidur lusuh dalam rumah dengan Didampingi istri dan anak bungsunya. Ia tak henti mengeluarkan air mata melihat kondisi keluarga dan 3 anaknya terpaksa putus sekolah.
Istrinya, Sularni (48) mengakui sekarang suaminya tidak bisa bergerak dan bicara. Ia bingung dan tidak bisa berbuat apa-apa, sebab sejak awal hanya suaminya yang mencari nafkah. Untuk makan, mereka hanya mengandalkan pemberian tetangga dan mengandalkan anaknya yang baru saja tamat SMP dan terpaksa putus sekolah untuk bekerja.
‘’Kalau mengandalkan gaji anak saya tidak cukup untuk menghidupi 5 orang. Kadang ada tetangga yang memberikan satunan dan beras. Kalau sedang tidak ada kami harus menahan lapar,’’ ungkap Sularni.
Saudara korban Suroso juga mengaku sangat terpukul melihat kondisi Sulimin. Rumah yang ditepatinya juga dibangun oleh warga secara gontong royong.
‘’Selama tiga tahun di sini, Kakak saya hidup menumpang di rumah warga. Rumah yang ditempati saat ini juga dibangun atas gotong-royong warga. tanah yang ditempati ini juga numpang,’’ ujar Suroso.
Kades Dusun Baru Pelokan, Suryadi membenarkan penderitaan yang dialami oleh warganya. Kondisi korban sangat butuh bantuan. Anak-anaknya terpaksa putus sekolah lantaran kondisi tersebut. Pemerintah desa telah mengupayakan pengobatan di RSUD Mukomuko. Namun setelah 15 hari menjalani perawatan tidak ada perubahan. Karena terbentur biaya hidup di rumah sakit, pihak keluarga memutuskan untuk dibawa pulang.
‘’Yang menjadi masalah saat ini adalah biaya hidup sehari-hari, lebih banyak mengandalkan pemberian tatangga. Untuk pengobatan meminta bantuan orang pintar. Kalau saya ke sana Pak Sulimin hanya bisa menagis,’’demikian Suryadi.(dul)