Tuesday, 28 February 2017

Harga TBS Turun Beruntun


//Dalam Tiga Hari, Turun Tiga Kali

METRO – Kegundahan petani sawit benar-benar terjadi, secara mengejutkan, kurun tiga hari terakhir harga Tandan Buah segar (TBS) turun secara beruntun atau tiap hari. Hari pertama turun sekitar Rp 30 per kg, hari kedua turun rata-rata Rp 100 per kg, terakhir kemarin rata-rata tiap pabrik, menurunkan harga sekitar Rp 50 per-kg. Padahal hasil kebun masyarakat baru mulai membaik, setelah sebelumnya ngetrek.
Daftar harga TBS per 23 Februari berdasarkan data yang diterima Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko. PT. Sapta Sentosa Jaya Abadi (SSJA) Rp 1.690/Kg. PT. Karya Sawitindo Mas (KSM) -. PT. Mukomuko Indah Lestari (MMIL) Rp 1.710/Kg. PT. Sentosa Sejahtera Sejati (S3) Rp 1.710/Kg. PT. Agri Mitra Karya (AMK) Rp 1.750/Kg. PT. Surya Andalan Primatama (SAP) Rp 1.760/Kg. PT Karya Agro Sawitindo (KAS) Rp 1.710/Kg. PT. Daria Dharma Pratama (DDP) Ipuh dan Lubuk Bento masing-masing Rp 1.710/Kg. PT. Bumi Mentari Karya (BMK) Rp 1.760/kg.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Eddy Apriyanto, SP, M.Si melalui kasi perizinan, Sudiyanto, menyampaikan, berdasarkan keterangan pihak perusahaan dalam hal ini pabrik, Crude Palm Oil (CPO), penurunan harga TBS ini dipicu oleh turunnya harga CPO internasional. Ia juga menyampaikan, turunya harga TBS tidak ada kaitannya dengan perayaan HUT Kabupaten yang sedang berlangsung. Hanya saja waktunya kebetulan bersamaan.
‘’Kita meminta pejelaskan dengan perusahaan, memang turunnya harga sawit ini tidak ada hubungan dengan HUT kabupaten. Kebetulan saja, harga CPO dunia turun, dan Mukomuko sedang melaksanakan perayaan HUT kabupaten,’’ demikian Sudiyanto.
Kades Teras Terunjam, Zamhari, menyampaikan penurunan harga TBS adalah hal yang biasa. Ia menyampaikan beberapa tahun lalu, harga TBS ditingkat petani hanya Rp 500/Kg. Saat itu tidak ada kegiatan HUT kabupaten. Artinya, perayaan HUT kabupaten dengan perubahan harga TBS merupakan hal yang terpisah.
‘’Saya berpendapat, turunya harga sawit sekarang tidak ada hubungannya dengan HUT kabupaten. Buktinya HUT kabupaten hanya sekali, perubahan harga sawit bisa setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali, tidak menentu,’’ ungkap Zamhari.
Hal senada disampaikan oleh Kades Pondok Kopi, Gusyanto. Ia menyampaikan, harga TBS ditentukan oleh hukum pasar. Meskipun mengalami penurunan, harga TBS saat ini masih cukup tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini harga TBS di Mukomuko merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah. Ketika kembali mengalami penurunan, merupakan hal yang biasa.
‘’Tidak ada yang aneh dengan penurunan harga sawit, itu hal yang biasa. Saya rasa juga tidak ada kaitannya dengan perayaan HUT Kabupaten,’’ ujar Gusyanto.
Terpisah, toke sawit asal V Koto, Basarudin, memprediksi, penurunan harga TBS masih terjadi hingga beberapa waktu kedepan. Kades Pondok Panjang ini mengaku tidak tahu pasti, apakah ada kaitannya antara perayaan HUT kabupaten dengan turunya harga TBS. Berdasarkan pengalaman selama ini, penurunan harga TBS terjadi secara signifikan saat perayaan hari besar. Mulai dari HUT RI, idul fitri, termasuk HUT kabupaten.
‘’Saya rasa, penurunan harga sawit masih bisa terjadi, terutama saat buah banyak,’’ demikian Basarudin.
Kepala Tata Usaha (KTU) PT.SSJA Endi, menjelaskan, penurunan harga TBS selama 3 hari terakhi tidak berkaitan dengan perayaan HUT kabupaten. Perubahan harga ini merupakan dampak dari turunya harga CPO dipasar internasional. Ia juga menyampaikan, dalam perayaan HUT kabupaten, perusahaanya tidak diminta sumbangan kepada pemerintah daerah.
‘’Saya berani pastikan, penurunan harga sawit ini tidak ada hubungannya dengan perayaan HUT kabupaten. Penurunan harga sawit ini dampak dari turunya harga CPO di pasar internasional,’’ jelas Endi.(dul)