Tuesday, 28 February 2017

Harga Sawit Turun Saat Hari Besar, Pemerintah Tidak Memungut Fee Pabrik


Harga TBS Kerap Turun Saat Perayaan Hari Besar
METRO – Saat ini harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit sedang berada dipuncaknya, bahkan tertinggi sepanjang sejarah persawitan di Kabupaten Mukomuko. Adapun harga terbaru TBS di pabrik Rp 1.900 per kg. Namun belakangan ini petani sedang gundah-gulana, mereka takut harga tiba-tiba anjlok. Sebab belajar dari pengalaman, saat hari besar, termasuk menjelang dan sesudah perayaan HUT kabupaten, harga kerap turun. Isu yang kerap kerkembang, pihak babrik diduga sengaja menurunkan harga untuk menutupi sumbangan atau fee yang diberikan kepada pemerintah.
Kemarin, Bupati Mukomuko Choirul Huda,SH mengklarifikasi semua isu tersebut. Menurutnya pejabat maupun pemerintah tidak pernah menerima fee dari pabrik atau perusahaan manapun, hingga menyebabkan harga sawit turun. Tidak saja pada massa pemerintahannya sekarang, pemerintah sebelumnya juga tidak meminta fee dari pabrik. Isu seperti itu sengaja digembor-gemborkan orang-orang yang tidak mengetahui, sehingga menebak-nebak penyebab harga sawit turun.
‘’Tidak benar pemda menerima fee dari pabrik, bukan pada masa saya saja, sebelumnya juga tidak ada. Apalagi disebut-sebut, gara-gara bayar ke pejabat atau pemerintah, harga TBS masyarakat turun, itu sama sekali tidak benar. Mungkin orang-orang tidak tahu saja, sehingga mengisukan seperti itu,’’ kata Huda.
Mahalnya harga TBS saat ini karena kondisinya sedang baik, maka kalau ada penurunan, bukan karena ada sumbangan ke pemerintah. Harga TBS dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak mentah dan pergerakan kurs mata uang. Selain itu juga dipengaruhi oleh kualitas buah masyarakat. Maka petani harus mampu mengelola kebunnya secara baik dan benar, sehingga hasilnya maksimal dan buahnya juga bagus.
‘’Sekarang sawit sedang mahal, kita pantas bersyukur. Kalau turun jangan dituding pemerintah yang salah, apalagi disebut-sebut pabrik menurun harga lantaran menutupi sumbangan, sama sekali itu salah. Harga TBS itu sifatnya menyeluruh, kondisinya sama di setiap daerah,’’ tegas Huda.
Masih disampaikan Huda, pemerintah selalu konsen mengawasi harga TBS, kalau terjadi penurunan, dicari tahu alasannya apa. Kalau sawit mahal, tentu masyarakat bisa sejahtera, artinya tujuan pemerintah untuk mensejahterakan warga tercapai. Sebagai bupati, begitupun pejabat lainnya, sebagian memiliki kebun sawit sama dengan masyarakat. Artinya kalau sawit mahal, sama-sama menikmati.
‘’Saya sebagai bupati juga punya kebun sawit, tidak mungkin saya mau harga murah, sama dengan banyak pejabat lain, punya sawit, semua butuh harga mahal. Artinya kalau sawit mahal kita semua bisa sejahtera,’’ tutup Bup.(jar)


Harga TBS Terjun Bebas
PENARIK – Kegundahan petani sawit tampaknya benar-benar menjadi kenyataan. Setelah sehari sebelumnya mengalami penurunan sekitar Rp 30 per kg, kemarin harga Tandan Buah Segar (TBS) mulai terjun bebas. Hampir di sebagian besar pabrik Crude Palm Oil (CPO), harga anjlok diangka rata-rata Rp 100 per kg. Walaupun tidak ada bukti dan sudah dijelaskan, jatuhnya harga TBS bersamaan dengan perayaan HUT Kabupaten Mukomuko ke-14, tetap menjadi tanda-tanya besar masyarakat.
Berikut daftar harga TBS per 22 Februari berdasarkan data yang diterima Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko. PT. Sapta Sentosa Jaya Abadi (SSJA) Rp 1.720/Kg. PT. Karya Sawitindo Mas (KSM) - . PT. Mukomuko Indah Lestari (MMIL) Rp 1.760/Kg. PT. Sentosa Sejahtera Sejati (S3) Rp 1.730/Kg. PT. Agri Mitra Karya (AMK) Rp 1.770/Kg. PT. Surya Andalan Primatama (SAP) Rp 1.760/Kg. PT Karya Agro Sawitindo (KAS) Rp 1.760/Kg. PT. Daria Dharma Pratama (DDP) Ipuh dan Lubuk Bento masing-masing Rp 1.760/Kg. PT. Bumi Mentari Karya (BMK) Rp 1.860/kg.
Salah seorang petani sawit, Siswanto mengaku sangat kecewa dengan turunnya harga ini. Yang menjadi pertanyaannya, mengapa harga turun bersamaan dengan HUT dan beberapa saat setelah pelantikan pengurus APKASINDO Mukomuko. Ia tidak bermaksut menuding, hanya saja waktunya yang bersamaan menimbulkan tanda-tanya.
‘’Sebelumnya memang sudah dijelaskan oleh bupati, tidak benar pabrik pemberi sumbangan, kemudian menurunkan harga. Tapi kok harga turun pada saat yang tepat seperti ini,’’ ungkap Siswanto.
Kepala Dinas Pertanian, Eddy Apriyanto, SP, M.Si melalui Kasi Perizinan, Sudiyanto, menyampaikan, dirinya sudah meminta penjelaskan terhadap pihak perusahaan terkait penurunan harga TBS ini. Alasanya penurunan harga TBS dilakukan karena ada penurunan harga CPO di pasar internasional. Penurunan harga TBS ini tidak berkaitan dengan perayaan HUT kabupaten yang sedang berlangsung.
‘’Saya sudah tanyakan kepada perusahaan, kenapa harga sawit turun lagi. Alasannya karena ada penurunan harga CPO dunia,’’ jelas Sudiyanto.(dul)