Sunday, 24 May 2015

Menanti Kejutan Politik Jelang Pilkada


//Memabaca Berbagai Skenario Pengusungan Cabup

KEMUNGKINAN perubahan peta politik di Kabupaten Mukomuko masih terbuka. Tidak menutup kemungkinan akan ada kejutan-kejutan besar dalam peta pencalonan pasangan bupati dan wakil bupati. Berdasarkan pengamatan terhadap isu yang berkembang dan juga dihubungkan dengan perpolitik Pilpres serta isu teranyar politik di tingkat pusat, banyak skenario politik yang bisa saja terjadi. Tanpa bermaksut memihak kemanapun, penulis ingin memaparkan berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi menjelang pendaftaran calon bupati ke Komisi Pemilihan Umum.
Kemungkinan pertama, yang sudah menjadi buah bibir banyak pihak, yaitu gugurnya beberapa kandidat bakal calon bupati, sebelum membawa barkas pendaftaran ke KPU. Karena hanya ada 25 kursi parpol di DPRD Mukomuko, andai dibagi rata, maka bisa mengusung 5 pasangan, namun itu sangat sulit terjadi. Sebab sesuai aturan untuk Mukomuko, calon bupati harus diusung parpol dengan menimal 5 kursi. Prediksi banyak orang, paling banyak kandidat adalah 3 atau 4 pasang saja. Siapapun dari nama yang ada saat ini bisa gugur, andai kalah dalam perebutan partai. Sejauh ini kandidat yang disebut-sebut dalam titik aman, hanya Wismen A Razak dan Sapuan, namun belum bisa dikatakan pasti. Sebab 5 menit sebelum mendaftar ke KPU, partai masih bisa berubah arah.
Kemungkinan berikutnya adalah, terjadi koalisi calon kuat, seperti isu teranyar perluang berpasangan Chiurul Huda dan Burhandari. Bukan tidak mungkin pula Huda berpasangan dengan Sapuan, sebab dua kandiat dikabarkan mulai membangun komunikasi politik. Seperti beberapa hari lalu mereka dikabarkan sama-sama berada di Palembang, juga sempat diisukan bertemu di Jakarta. Wismen sendiri juga tidak mustahil bisa bersama dengan Huda, Andy ataupun Burhandari dan Gafrie Zainuddin. Sebab nama-nama ini masuk dalam survey tim Wismen untuk menjaring pendamping. Ada banyak alasan mereka bisa bersatu, terutama menyangkut dengan partai pengusung dan kepentingan politik lainnya.
Kemungkinan lainnya adalah, menyatunya koalisi indonesia hebat (KIH) atau kubu Koalisi Merah Putih (KMP). Jika ini terjadi, maka persaingan politik Pilpres akan terulang di Mukomuko. Kandidat yang paling berpeluang bersaing adalah, Wismen A Razak jagoan dari KIH dan Andy Suhary atau Burhandari utusan KMP. Kandidat lain yang bukan kader parpol meski rela menjadi penonton atau dilirik untuk nomor 2. Atau akan timbul salah satu pasangan yang akan menjadi penyeimbang, dengan diusung oleh beberapa partai yang belakangan ini, renggang dari KMP, atau mulai jauh dari KIH. Seperti PAN kabarnya tidak begitu fokus dengan koalisi KMP sejak pergantian pimpinan. Juga PPP, Golkar dan Partai Demokrat yang belakangan diisukan tidak terikat dengan koalisi manapun.
Walau baru sebatas jabar angin, wacana KIH akan bersatu mendukung Wismen sudah mulai berembus. Ini diperkuat dengan ditariknya rekomendasi PKPI terhadap Sapuan dan kandidat calon kepala daerah lain se indonesia dengan alasan terjadi pergantian Sekjen DPN KNPI. Di lingkungan KMP, peluang PKS berkoalisi dengan Gerindra dan Golkar sangat besar. Sementara PAN isunya telah diikat oleh Gafrie, tinggal lagi mencari dua kursi tambahan. Jika itu terjadi yang akan maju adalah Wismen, Andy Suhary dan Gafrie Zainuddin.
Tapi berbalik ke belakang, jauh sebelum Wismen, Andy dan Gafrie dikenal sebagai bakal calon bupati, Choirul Huda dan Sapuan sudah lebih dahulu merintisnya. Nama keduanyapun sudah begitu melekat di tengah masyarakat Mukomuko. Kandidat lain butuh kerja keras dan perjuangan maksimal, untuk bisa mengikis nama keduanya dari catatan calon kuat bupati. Peluang mereka diusung parpol cukup besar, sebab tidak ada satu partaipun yang ingin kalah pada Pilkada kelak. Maka pengrusunya berusaha memberi dukungan pada calon kuat yang bisa memenangi Pilkada. Artinya segala kemungkinan bisa terjadi sebelum KPU menetapkan kandidat calon bupati peserta Pilkada.(**)