Friday, 19 October 2012

Siswi SMA Putus Sekolah
Orang Tua Tak Punya Biaya
XIV KOTO – Pahitnya kehidupan tidak hanya dirasakan oleh Niarmaini, seorang janda asal Desa Pauh Terenja, Kecamatan XIV Koto. Perjuangan sang anak pun, yang bernama Mira Karmila dalam menggapai cita terpaksa kandas di tengah jalan. Mira yang diketahui duduk di bangku SMAN 5 Mukomuko (MM) memutuskan berhenti sekolah lantaran ibunya, Niarmaini tidak sanggup lagi membiayainya. Keputusan berat ini diambil baru sekitar seminggu lalu.
Saat rumahnya disambangi oleh Kabag Kesra Setdakab MM, Drs.H Ansari, Niarmaini sudah menceritakan perihal anaknya yang tidak lagi sekolah. Oleh Ansari, Niarmaini diminta memasukkan kembali anaknya ke sekolah dan terus mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) sampai tamat, jika Mira masih ingin sekolah. Soal kebutuhan biaya, Ansari akan berkoordinasi dengan Pemkab untuk mengucurkan dana bantuan.
Ditanyakan langsung dengan pihak sekolah, melalui Wakil Kepala Bagian Sarana dan Prasarana, Zulpian, SH mengaku belum tahu bahwa salah seorang muridnya tidak lagi sekolah karena terlilit faktor ekonomi. Yang diketahui Zulpian, memang sudah seminggu terakhir, Mira tidak terlihat di kelas. Dalam absensinya pun tidak tertera keterangan jelas.
‘’Saya kenal dengan murid saya ini. Setahu saya, dia (Mira, red) memang tidak sekolah. Tapi tidak ada keterangan apapun,’’ kata Zulpian kemarin.
Di mata Zulpian selaku seorang tenaga guru, Mira tergolong murid yang cerdas. Kemampuannya dalam menyerap mata pelajaran yang diajarkan oleh guru melebihi murid lain. Zulpian sendiri sangat menyayangkan keputusan yang diambil. Andai saja dibicarakan, Zulpian memastikan akan mencarikan jalan keluar.
‘’Kalau sejak awal kami tahu dia (Mira, red) dari keluarga tidak mampu, dia bisa masuk pada program pembebasan siswa miskin. Syaratnya ada surat keterangan tidak mampu dari desa. Tapi selama ini Mira tidak menunjukkan surat itu,’’ terang Zulpian lagi.
Untuk diketahui, biaya yang harus dibayarkan Niarmaini perbulannya di sekolah sebesar Rp 80 ribu. Ini adalah biaya komite. Cukup miris sekali. Untuk membayar uang sebesar itu saja masih ada warga yang tidak mendukung perekonomiannya. Namun kalau dilihat dari realita, masuk akal. Sebab, sehari-harinya, Niarmaini hanya diupah Rp 25 ribu/hari dari bekerja sebagai buruh upahan di pabrik cetakan batu bata.
Dengan pendapatan sebesar itu, Niarmaini harus menanggung biaya hidup sehari-hari kedua anaknya. Belum lagi mesti membiayai sekolah Mira dan adiknya, yang masih kelas 1 SMPN. Pasca berhenti dari sekolah, Mira bertolak menuju Inderapura, Pesisir Selatan (Pessel), ke tempat saudaranya untuk mencari kerja.
‘’Sejak berhenti, Mira di Inderapura bekerja. Saya sudah sempat hubungi, dia ingin sekolah lagi. Tapi itulah, kendalanya di biaya sekolah dan tidak adanya sarana transportasi ke sekolah,’’ ungkap Niarmaini.(dik)