Friday, 27 March 2015

Sapuan 8 Kursi, Huda 7, Gafrie 5 dan Burhan 5

Prediksi Peta Kandidat dan Parpol Pengusung
METRO – Saat ini 4 kandidat kuat calon bupati Mukomuko tengah berjibaku mencari dukungan dari partai politik (Parpol). Berdasarkan prediksi yang diambil dari isu berkembang, H Sapuan,SE,Ak,MM,CA dan Choirul Huda,SH sudah mengunci dukungan dari beberapa partai politik. Ir. Gafrie Zainuddin juga dikabarkan telah deal dengan beberapa partai. Sedangkan Burhandari,S.Pd,M.Si masih menunggu izin final dari PKS, bisa jadi ia benar-benar maju, atau akan membuat keputusan lain, dengan memberi dukungan penuh kepada salah satu dari kandidat. Satu-satunya partai yang diprediksi berpeluang bersinergi dengan PKS mengusungnya adalah NasDem. Untuk nama-nama lain, sejauh ini berkembangannya belum tampak jelas.
Adapun prediksi peta dukungan parpol pada masing-masing adalah, Sapuan berpeluang diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), PKP Indonesia, PDI Perjuangan dan Partai Demokrat dengan total kursi di DPRD Mukomuko 8. Choirul Huda diisukan diusung PAN, Partai Hanura dan Golkar dengan total 7 kursi. Gafrie berpeluang diusung Gerindra dan PPP. Sedangkan Burhandari berkesempatan maju jika diusung PKS dan NasDem. Namun sekali lagi ditegaskan, ini baru sebatas prediksi sesuai dengan isu berkembang, bisa saja, tidak demikian adanya.
Salah seorang tokoh Mukomuko yang juga dosen Fakultas Hukum, Unib H. Hamdani Makir,SH,M.Hum  mengakui bisa jadi petanya demikian adanya. Yang jelas saat ini belum ada kandidat yang dipastikan diusung oleh salah satu partai. Sebab semuanya masih berjuang mencari celah mendapat pengakuan dari setiap partai. Karena syarat maju adalah dukungan dari partai politik, seminim-minimnya 5 kursi di DPRD.
‘’Masing-masing sedang berjibaku mencari dukungan dari partai politik, mungkin ada yang sudah deal, juga belum tercapai kesepakatan. Namun bayangannya sudah bisa ditebak-tebak,’’ katanya.
Ketua DPC PKB Mukomuko, Adrizon tidak menapik jika peluang Sapuan diusung parpolnya cukup besar. Dari beberapa orang yang mengambil formulir pendaftaran hanya Sapuan yang mengembalikan. Ini membuktikan Sapuan memiliki kepercayaan dengan PKB. Ia yakin Sapuan calon terkuat, meskipun jarang turun ke daerah, perhatian Sapuan terhadap masyarakat Mukomuko sangat tinggi. Melalaui saudara, rekan dan tim Sapuan telah banyak membantu masyarakat.
‘’Pemberian bantuan ambulance geratis, bukti nyata kepedulian beliau terhadap masyarakat. Sudah tidak terhitung lagi warga yang terbantu dengan adanya ambulance geratis ini,’’ tambah Adrizon.
Walau banyak pihak yang mengklaim sudah mendapat tanda tangan dari para petinggi kepala banteng, namun kenyataannya sampai sekarang PDI Perjuangan Mukomuko belum memutuskan siapa calon bupati yang akan diusungnya. Ada 3 nama yang berpeluang diusung PDI Perjuanga, yaitu Mujiono, S.IP, Sapuan,SE,Ak,MM,CA dan Choirul Huda,SH. Surat lamaran dan hasil pengujian kelayakan di tingkat kabupaten telah disampaikan ke pusat.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Mukomuko, Dedi Kurniawan, S.Sos mengatakan bahwa sampai sekarang belum ada pembicaraan serius dengan kandidat bupati manapun. Maka jika ada yang mengklaim sudah diusung si ‘’moncong putih’’ tidak benar, hanya pengakuan pribadi. Untuk menetapkan calon, PDI Perjuangan melalui beberapa tahapan, yang semuanya harus melibatkan pihak kabupaten.
‘’Belum ada satupun calon bupati yang kami usung, memang ada 3 nama yang kita ajukan, salah satunya kader sendiri. Maka kalau ada yang mengklaim, itu sifatnya hanya pernyataan sepihak saja,’’ ungkapnya.(jar)

Prediksi Peta Kandidat dan Parpol Pengusung
Calon            Parpol
Sapuan            PKB, PKPI, PD dan PDIP   
Choirul Huda        PAN, Hanura dan Golkar
Gafrie            Gerindra dan PPP
Burhandari         PKS dan NasDem

Tanpa Calon Incumbent, Pilbup Bakal Sengit
Agustus Mukomuko Tanpa Bupati   
METRO – Pemilihan bupati Mukomuko yang dijadwalkan Desember kelak, serentak dengan Pilkada di beberapa daerah lainnya, bakal berlangsung sengit. Calon kuat bisa saja tumbang sebelum waktunya. Sebab kali ini Pilbup tanpa incumbent, agustus nanti atau sebelum kampanye berlangsung, jabatan kepala daerah sudah berakhir. Artinya status Choirul Huda, SH sebagai salah satu calon bakal sama dengan kandidat lainnya. Selain itu, calon yang kurang mantap dalam finansial dan juga mental, bakal kewalahan.
Disampaikan oleh salah seorang tokoh Mukomuko yang juga dosen Fakultas Hukum, Unib H. Hamdani Makir,SH,M.Hum pilkada kali ini akan jauh berbeda dari sebelumnya. Calon yang dikatakan kuat pada saat sekarang, tidak dijamin bisa terus mempertahankan diri. Selain waktu masih panjang, juga pada saatnya kelak tidak ada lagi calon yang berstatus pejabat aktif, sebab masa jabatan bupati sudah habis. Selain itu masalah finansial dan isu lain, juga dapat mempengaruhi dukungan kepada masing-masing kandidat.
‘’Oke kali ini ada calon yang dianggap kuat, kita belum bisa jamin, sebab waktu masih panjang. Apalagi pada saatnya nanti, pengaruh kandidat yang masih mengemban jabatan akan habis. Saya pikir calon yang mungkin dianggap belum kuat, bisa berubah drastis,’’ paparnya.
Panasnya persaingan, sebetulnya sudah dimulai dari sekarang. Terutama persaingan dalam melakukan lobi politik dengan partai. Satu partai politik direbut oleh beberapa orang calon. Untuk pergerakan di lapangan, memang sudah ada yang gencar, tapi calon lain punya prinsip lain. Mereka tengah ‘’wait and see’’. Saatnya nanti akan terjun dengan full kemampuan yang dimiliki.
‘’Jika sasarannya tepat, dalam waktu singkat calon bisa mendapat dukungan maksimal dari masyarakat. Saya menilai begitu, ada calon yang tampak santai, namun punya strategi yang sudah matang, maka saya katakan sekarang belum tahu siapa sebenarnya akan bersaing ketat. Bisa Sapuan dengan Huda, atau Gafrie dengan Sapuan, maupun Gafrie dengan Huda,’’ paparnya.
Masih disampaikan Hamdani, wakil bupati juga akan membawa pengaruh besar terhadap dukungan. Salah menetapkan wakil, bisa membuat calon tidak bergeming. Masyarakat sudah sangat cerdas soal pemilihan, mereka butuh orang yang bisa dipercaya dan mampu. Kesukuan tidak berlaku di tengah masyarakat, karena tidak akan berpengaruh terhadap kehidupan mereka, jika calon tersebut tidak punya kemampuan.
‘’Ketokohan wakil juga akan mempengaruhi, masyarakat tidak terpecah dalam sukuisme. Siapapun jadi bupati, harapan mereka harga sawit mahal, harga kebutuhan murah, urusan tidak sulit. Tidak ada istilah bupati pribumi hanya perhatikan warga pribumi, juga bupati dari kelompok trans tidak mungkin berpihak ke trans seluruhnya,’’ tutupnya.(jar)