Tuesday, 28 January 2014

Mukomuko Online



Caleg Perempuan Bukan Pelengkap!
POLITIK RM – Munculnya anggapan keberadaannya hanya sebagai pelengkap atau pendamping caleg lain, kalangan politisi perempuan Kabupaten Mukomuko yang maju pada Pemilu tanggal 9 April nanti tersinggung. Mereka menganggap isu itu sengaja digembor-gemborkan oleh lawan politik untuk menjatuhkan politisi wanita. Seperti yang dialami salah seorang politisi PAN Dapil III Mukomuko, Roslinar.
Roslinar merasa dirinya telah diserang oleh lawan politiknya dengan mengisukan jika dirinya sebagai caleg nomor urut 3 PAN hanya sebagai pelengkap untuk mencukupi 30 persen kuota perempuan dan juga untuk mendampingi istri Bupati Mukomuko, Hj Rosna Ichwan yang maju sebagai Caleg Provinsi Nomor Urut 4.
Dikatakan Roslinar, ia serius maju dengan target memenangi pemilu. Karena itu penting untuk mendorong perempuan lebih maju dan bisa menghasilkan kebijakan yang bisa menyelesaikan masalah. Terutama menyangkut tindakan ketidakadilan kepada kaum wanita, anak-anak dan masyarakat lemah. Sebab wanita memiliki perasaan lebih halus dari laki-laki dalam hal memberi perhatian kepada sesama. Sebagai bukti keseriusannya, bersaing dengan caleg lainnya, sejak awal Roslinar terus membangun komunikasi dengan masyarakat, serta ikut dalam berbagai kegiatan, baik kepemudaan, bantuan sosial dan juga dalam hal lainnya.
‘’Saya merasa dirugikan dengan isu, jika saya hanya sebagai pelengkap dan mendampingi. Isu itu sebagai bentuk serangan yang tidak sportif. Saya maju karena ingin duduk dan berjuang untuk perempuan, anak-anak serta kaum lemah. Saya berjalan bersama Ibu Rosna, karena beliau juga maju sebagai caleg PAN Provinsi. Selaku kader PAN saya dukung ibu dalam berbagai hal, apalagi selama ini kita tahu, beliau aktif terjun ke masyarakat,’’ kata Roslinar dengan nada kesal.
Roslinar berharap semua bisa berpolitik dengan santun, tidak menjatuhkan lawan dengan cara yang tak sportif. Begitu juga kepada caleg perempuan lain, diharapkan bisa terus maju. Seluruh perempuan tak perlu berkecil hati terhadap isu skeptis yang mungkin sengaja disebarkan terhadap caleg-caleg perempuan. Saatnya menunjukkan, perempuan itu berkualitas.
‘’Kalau selama ini perempuan hanya dianggap sebagai pelengkap dari kuota 30 persen, saya ingin membuktikan bahwa perempuan juga bisa melakukan banyak hal seperti yang dilakukan oleh Laki-laki,’’ tegas wanita Asli Ipuh dan berdarah Malin Deman ini.
Salah seorang tokoh Mukomuko, H Hamdani Makir, SH, M.Hum, berpesan caleg perempuan jangan berkecil hati. Isu itu berkembang bukan tanpa alasan, kenyataannya ada diantara caleg perempuan yang diusung untuk memenuhi kuota saja. Namun juga banyak mereka yang serius dan bisa memenangi pemilu. Kalau perempuan diberi kesempatan, ia yakin mereka punya kemampuan untuk berbuat kebih banyak.
‘’Pelengkap itu tidak semua caleg perempuan, ada mereka yang serius dan punya kans besar menang. Juga sebaiknya dalam politik, jangan saling menjatuhkan dengan cara yang tidak baik dan bisa memancing ketidak nyamanan,’’ tutupnya.(jar)

Sistim Pemilu Membingungkan Masyarakat
//Musfar: Pelaksana Pemilu Kurang Aktif
POLITIK RM – Menurut Musfar Rusli, Sekjen Dewan Pimpinan Daerah (DPD) NasDem Kabupaten Mukomuko, masyarakat masih buta pengetahuan soal pemilu. Sementara pelaksana pemilu yang punya kewajiban melakukan sosialisasi belum juga aktif memberi keterangan kepada masyarakat.
Dikatakan Musfar, banyak persoalan pemilu yang sampai sekarang tidak diketahui oleh masyarakat, termasuk caleg sendiri. Semestinya KPU melakukan sosialisasi dengan mengumpulkan seluruh caleg atau partai menyampaikan tentang pemilu. Juga banyak pertanyaan dari masyarakat yang meski mereka jawab.  Hingga dengan demikian, pemilu bisa berlangsung dengan sukses. Parahnya lagi, kata Musfar, beberapa petugas PPS dan PPK yang sempat ia tanyai juga belum sepenuhnya paham.
‘’Kalau tidak disosialisasikan dari sekarang, bagaimana kita paham dengan sistim pemilu. Yang mana surat suara utuk kabupaten, provinsi hingga pusat tidak jelas. Anehnya jangankan masyarakat, petugas KPU saja sejauh ini masih belum menguasai, kami telah mengujinya,’’ kata Musfar.
Masih dikatakan Musfar, ada beberapa hal yang menurutnya bisa merusak kesuksesan penyelenggaraan pemilu. Diantaranya warna surat suara, tata cara pencoblosan yang benar dan termasuk aturan-aturan pemilu lainnya yang bersifat teknis.
‘’Kalau di daerah lain, kami melihat KPU dan Panwasnya cukup aktif, namun aneh di Mukomuko, pemilu tidak begitu menggema. KPU kurang sosialisasi dan juga caleg kebingungan,’’ tutupnya.(jar)

Bappilu Hanura Tak Bisa Diandal
POLITIK RM – Empat Orang Caleg dari Partai Hanura untuk DPRD Provinsi Bengkulu sejauh ini kian aktif berjuang mencari dukungan sebanyak-banyaknya. Mereka optimis, minimal 1 kursi untuk provinsi akan diraih. Apalagi caleg mereka tersebar di tiga dapil di Mukomuko. Di lain sisi, sangat disayangkan keberadaan tim pemenangan pemilu (Bappilu) Hanura bentukan DPD Provinsi Bengkulu yang belum terlalu maksimal bergerak. Sedianya bappilu mengorganisir pergerakan caleg untuk memudahkan.
Caleg Nomor 1 Hanura untuk DPRD Provinsi, Anton Hidayat, mengungkapkan saat ini mereka bergerak pelan-pelan namun pasti. Dimana setiap caleg punya basis masing-masing untuk dibina secara terus menerus.
‘’Kami merasa yakin meraih jatah satu kursi, karena melihat komposisi yang cukup baik. Dari 12 partai peserta pemilu, kita boleh dikatakan lumayan berpeluang. Sebab beberapa parpol, hanya satu caleg saja yang berjalan,’’ kata Anton.
Namun Anton mengakui, mereka terpaksa berjuang total melakukan kampanye. Caleg Hanura tidak bisa mengandalkan bappilu, karena sejauh ini belum tampak pergerakannya.
‘’Kita mengandalkan bappilu juga tidak ada gunanya, lebih bagus bergerak sendiri dan berkomunikasi langsung dengan masyarakat. Yang jelas saya terus memberi support kepada caleg di bawah dan kawan-kawan,’’ tutupnya.(jar)

Polres Siapkan Linmas Profesional
POLITIK RM – Bertempat di Balai Pertemuan Ipuh Sakti, Kecamatan Ipuh, Polres Mukomuko melakukan sosialisasi dan pelatihan linmas untuk pengamanan pemilu. Sebanyak 178 Linmas dari tiga kecamatan yaitu Ipuh, Malin Deman dan Air Rami disiapkan untuk mengamankan jalannya pelaksanaan  pemilu bersama dengan Polres Mukomuko, TNI dan Satpol-PP. Dibutuhkan petugas yang Profesional agar terciptanya situasi kamtibmas yang aman dan kondusif.
Pelatihan yang dibuka senin lalu ini, berlangsung selama 5 hari secara bergiliran di lima lokasi yang berbeda. Dimana untuk Kecamatan Pondok Suguh, Sungai Rumbai dan Teramang Jaya dipusatkan di Kecamatan Pondok Suguh. Selanjutnya Kecamatan Teras Terunjam, Selagan Raya dan Penarik di pusatkan di Kecamatan Penarik. Kemudian 6 kecamatan lainnya dipusatkan di Kota Mukomuko dan Lubuk Pinang.
Kapolres Mukomuko, AKBP. Wisnu Widarto, S.Ik melalui Kabag Ops, Kompol.  Laba Meliala, S.Ik didampingi Kasat Sabara, AKP. Hasdi dan Kasat Binmas, AKP. Rufaicen, SH mengatakan bahwa di dalam pelatihan, linmas dibekali segala sesuatu yang dibutuhkan. Karenanya pihak kepolisian berharap agar peserta pelatihan bisa serius menyerap arahan yang disampaikan.
‘’Sesuai dengan Undang-Undang, kami menyampaikan materi pelatihan terkait pemilu, teknik pengamanan dan stimulasi pengamanan Tempat Pemungutan Suara (TPS). Sehingga terciptanya kondisi yang kondusif,’’ ungkap Kasat Sabara.
Kepala Satpol PP, AKBP PP Iskameri, S.Pd, M.Si mengatakan, pelatihan linmas sebagai upaya untuk menyonsong kesiapan pelaksanaan pemilu nanti. Selain pelatihan juga akan di lakukan stimulasi. Karena dalam pelaksanaan nanti linmas akan dikomando lansung oleh Satpol PP.
‘’Disini kami menjelaskan agar semua linmas serta mengerti dan memahami tupoksi yang harus dilakukan pada saat pemilu nanti. Karena pihak kami yang akan mengkomandokan langsung. Selain itu kami juga menjelaskan dengan rinci hal yang harus dilakukan termasuk honor linmas juga turut disampaikan,’’ tutup Iskameri.(dum)

Mundur dari Persaingan Lebih Bijak
Hamdani : Ketimbang Nanti Stress
POLITIK RM – Hari pencoblosan tersisa 2 bulan lebih lagi, dari 296 caleg yang maju sebagai peserta pemilu 2014, hingga saat ini tak sampai separohnya yang terus bergerilya mencari dukungan. Selebihnya diam dan menghilang dari persaingan politik. Ada beberapa alasan mundurnya para caleg ini dari persaingan, diantaranya tak siap dengan anggaran yang dibutuhkan dan tidak siapnya mereka disegi mental serta dukungan. Menanggapi hal ini, salah seorang tokoh Mukomuko yang juga dosen senior Unib, H. Hamdani Makir, SH, M.Hum, mereka yang cepat sadar tidak akan bisa menang dengan mundur dari persaingan jauh lebih bijak.
Dalam dunia politik, kecukupan dana dan juga nama besar ditengah masyarakat adalah tuntutan. Jika dua ini belum ada, maka caleg tidak akan bisa keluar sebagai pemenang pemilu. Maka sebaiknya kalau sudah demikian adanya, pilihan mundur dari persaingan jauh lebih bijak, ketimbang mamaksa diri yang berdampak buruk ke depannya.
‘’Saya pikir mereka yang mundur sudah bisa mengukur kemampuannya, sebab  mau tidak mau, kalau mengikuti alur persaingan, anggaran harus ada dan juga punya nama di tengah masyarakat. Untuk apa kita payah-payah hasilnya tidak memungkinkan,’’ kata Hamdani.
Dampak dari caleg yang memaksa bersaing dengan tidak memiliki kemampuan bermacam-macam. Diantaranya stress dan keretakan dalam rumah tangga hingga masalah lain. Namun bukan berarti peluang duduk tidak ada, semua caleg punya peluang. Mereka yang tidak bergerak sama sekali hari ini, bukan tidak mungkin bisa meraih dukungan lebih banyak, sebab semuanya tuhan yang menginginkan.
‘’Kalau kita katakana tidak mungkin, bukan berarti mustahil mereka yang tak punya nama besar bisa duduk, karena garis tangannya ada. Namun secara kasat mata dan kemampuan manusia, dua faktor diatas harus ada. Punya uang saja tidak cukup, juga sekedar dikenal saja juga tidak menjamin,’’ tutupnya.(jar)


Caleg Perempuan Kurang Populer
POLITIK RM – Jumlah caleg perempuan Kabupaten Mukomuko yang maju pada pemilu 2013 lebih dari 30 persen dari total caleg di Mukomuko. Namun sayangnya dari jumlah itu hanya beberapa saja caleg perempuan yang total terjun untuk mengejar target memenangi pemilu. Sebagian besarnya sesuai dengan prediksi banyak pihak sebelumnya, jika caleg perempuan sekedar memenuhi syarat yang diminta Komisi pemilihan umum (KPU), yaitu 30 persen kuota perempuan.
Ada beberapa faktor penyebab lemahnya komposisi caleg perempuan pada pemilu 2014. Diantaranya mereka terkendala dengan amunisi untuk bergerak menyamapi kaum lagi-laki dan juga sebagai besar caleg perempuan merupakan politisi dadakan. Tidak banyak dari mereka yang sudah berbuat jauh sebelumnya, hanya dikenal saat ini saja.
Dosen senior Unib, H. Hamdani Makir, SH, M.Hum mengatakan untuk melahirkan dewan perempuan cukup sulit, karena figurnya susah dicari. Caleg yang ada sekarang, menurutnya bukan politisi yang punya gebrakan atau sudah berbuat sebelumnya. Mereka hanya tiba-tiba muncul sebagai politisi lantaran ikut-ikutan atau sekedar memenuhi kuota saja. Sementara terjun ke dunia politik tidak cukup bisa mendekati masyarakat saat pemilu saja.
‘’Kita tahulah, kalau politisi perempuan yang terlihat saat ini, sebagian besar tidak punya dasar. Maka mereka sulit bersaing dengan caleg laki-laki yang sedikit banyaknya sebelum terjun sudah berkecipung di tengah masyarakat. Belum lagi kendala dana dan sebagainya, maka kita sulit untuk bisa mencetak dewan perempuan,’’ kata Hamdani.
Perempuan sendiri, selama ini juga sulit bersatu untuk mengakat kaumnya di parlemen. Untuk pendidikan, pada dasarnya perempuan sekarang cukup bagus. Namun mereka kurang tertarik dengan dunia politik, lebih memilih terjun ke dunia kerja, seperti pegawai dan sebagainya. Mudahan kalau tidak pemilu sekarang, ke depannya ada perubahan persaingan perempuan dalam menuju kursi parlemen.
‘’Kalau pendidikan, kita tidak ragukan lagi. Bahkan kalau jadi dewan, perempuan rasanya cukup baik. Sebab mereka punya kelembutan dan prasaan lebih baik,’’ tutupnya.(jar)

Didukung, Bang Ken Akan Menang
POLITIK RM – Dukungan untuk Bang Ken atau H. Ahmad Kenedi, SH.MH terus berdatangan. Terkhusus di Mukomuko Bang Ken diperkirakan akan keluar sebagai pemenang. Pasalnya nama Bang Ken, terlepas ia mantan wali kota Bengkulu, bagi masyarakat Mukomuko sudah tidak asing dan ia juga sebagai sosok yang ikut menyukseskan pemekaran Kabupaten Mukomuko saat itu. Maka wajar saja, sebagai ungkapan bangga dan terimakasih atas perhatiannya selama ini.
Dihubungi, Bang Ken mengaku bangga karena rekan-rekan seperjuangannya terus memberi suport. Sebab ia bisa maju sebagai calon Dewan Pimpinan Daerah (DPD) nomor 2 atas masukan dan dukungan dari banyak pihak. Maka kepercayaan orang-orang yang menginginkannya mewakili Bengkulu ini harus ia pegang dan berusaha sekuat mungkin untuk bisa memenangi pemilu mendatang.
‘’Kita berterimakasih atas dukungan dari kawan-kawan yang ada,  mudahan saja kepercayaan dari masyarakat ini bisa mengantar saya ke DPD periode 2014 - 2019. Saya sangat berharap semua bisa memberi masukan dan dukungan,’’ kata Bang Ken.
Maju sebagai calon DPD, Ahmad Kanedi sudah mengantongi data dan fakta apa yang harus ia perjuangkan. Terutama di Mukomuko, Bang Ken paham betul. Sebab ia rutin mengunjungi kawan-kawan seperjuangannya dan meninjau kondisi masyarakat. Selain di Mukomuko, dukungan untuk Bang Ken, dai kabupaten lainnya juga tidak kalah besarnya. Sebab Bang Ken merupakaan putra Bengkulu yang terus bergerilya jauh dari rencananya maju sebagai calon DPD.
‘’Kalau memang nanti diberi kepercayaan, kita sudah punya data apa yang harus diperbuat. Kita mengenal masyarakat dan kebutuhan mereka, terutama dalam menunjang perekenomian,’’ tutup Bang Ken.(jar)

Bendera Parpol Berkibar di Depan Rumah PPL
POLITIK RM – Kampanye yang dilakukan para calon anggota legislatif (Caleg), baik secara langsung ataupun melalui timnya mulai melenceng dari aturan yang ditetapkan. Titik-titik lokasi pemasangan atribut kampanye,  baik itu bergambarkan si caleg atau parpol pengusungnya sembarang saja. Contohnya di Desa Sibak, di depan rumah Petugas Pengawas Lapangan (PPL) Panwaslu Mukomuko dipasangi bendera salah satu parpol. Sontak saja, hal itu membuat PPL atas nama Irwanto berang dan kecewa. Apalagi pemasangan tersebut sepengetahuannya tanpa ada izin ataupun pemberitahuan.
Dikatakan Iwan, sejak awal ia sudah mengingatkan pada caleg dan juga pengurus parpol untuk di depan rumahnya tidak dipasangkan atribut kampanye. Sudah menjadi aturan, selaku petugas pengawas pelaksanaan pemilu di tingkat desa, Iwan harus netral. Keberadaan atribut parpol membuat image negatif di mata orang, dimana seolah-olah Iwan memberi dukungan pada salah satu partai politik atau caleg.
 ‘’Saya harus netral selaku petugas pengawas, maka kalau bendera di pasang depan rumah saya tidak setuju. Saya melihat caleg asal pasang saja bendera tanpa izin dari pemilik tempat atribut itu dipasang,’’ kata Irwanto.
Bukan hanya di depan rumahnya, tim sukses caleg maupun kader dan simpatisan parpol juga harus berpamitan terlebih dulu sebelum memasangkan atribut, apapun itu bentuk dengan si empunya rumah. Sebab rumah pribadi berbeda dengan lokasi umum seperti halnya rumah makan, warung kopi dan tempat usaha lain.
‘’Sebaiknya ada sikap saling menghargai dan komunikasi yang baik, sehingga tidak ada masalah di kemudian hari. Saya bukan apa-apa, seluruh partai memang tidak diizinkan dipasang depan rumah,’’ tutupnya.(jar)


Bambang Ajak Sukseskan Pemilu 
POLITIK RM - Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Bambang Soeroso, yang kembali maju pada pemilu saat ini memanfaatkan kunjungannya ke Mukomuko dengan galang aspirasi masyarakat Mukomuko. Saat hadir di Mukomuko kemarin, ia sempat bertatap muka langsung dengan organisasi masyarakat, pemuda, tokoh masyarakat, kelompok nelayan, petani dan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Selain mendengar aspirasi warga, Bambang mengajak masyarakat untuk menyukseskan perhelatan pesta demokrasi, Pemilu Legislatif pada 9 April mendatang.
Bambang menilai pembangunan di Kabupaten Mukomuko sejauh ini sudah berkembang pesat, setelah menjadi Daerah Otonom Baru (DOB) sekitar sepuluh tahun lalu. Namun dalam menata PNS menurut Bambang masih perlu ditingkatkan. Pelayanan terhadap petani, nelayan dan masyarakat secara umum harus ada perubahan ke arah yang lebih baik lagi. Menurut Bambang, ini penting bagi masyarakat untuk menempatkan pilihan kepada seorang wakil rakyat nantinya.
‘’Ini yang memacu kita untuk turun langsung ke daerah kabupaten/kota agar informasi, baik keluhan maupun masukan dari masyarakat bisa digalang. Di Mukomuko, termasuk daerah yang perkembangannya cukup baik setelah terbentuk DOB, namun masih banyak yang mesti ditingkatkan lagi dan butuh diberikan dorongan untuk pembangunannya. Termasuk di segala sektor,’’ ungkap Bambang.
Bambang juga mengimbau agar masyarakat menggunakan hak pilihnya pada pemilu. Itu tidak lain sebagai bentuk kepedulian terhadap negara adalah dengan ikut serta dalam memberikan hak suara.
‘’Dalam waktu dekat ini akan dilaksanakan pemilihan wakil rakyat dan anggota DPD, dengan demikian kita harapkan masyarakat menggunakan hak pilihnya, sebab itu salah satu wujud kita peduli dengan negara,’’ demikian Bambang.(nek)

NasDem Dapil II Mengklaim Kompak
POLITIK RM – Persaingan internal caleg dalam satu partai untuk mendapat dukungan terbanyak diprediksi banyak pihak lebih panas daripada tingkat  persaingan caleg berbeda parpol. Anggapan ini tidak dibenarkan oleh para penggawa Partai NasDem yang menghuni Dapil II. Sesama caleg NasDem mereka kompak saling bantu dan bahu-membahu untuk menutupi kekurangan sama lain. Persaingan bagi mereka adalah dengan caleg partai politik lain.
Seperti diungkapkan oleh salah satu caleg NasDem, H Paulus Sabar Sudiyo,  S.Sos dimana sesama caleg NasDem mereka selalu kompak menjaga hubungan baik dan berkomunikasi. Bahkan pada saat tertentu mereka bersamaan berkumpul dengan warga. Baginya, sesama caleg NasDem tujuan utama adalah memenangi pemilu. Masing-masing caleg fokus mencari dukungan di basis masing-masing.
‘’Kalau persaingan internal kami tidak pikirkan itu, sebab target utama kita membawa partai menang lebih dahulu. Persaingan yang harus dihadapi adalah dengan caleg partai lain, kami selalu berkomunikasi dan bersama-sama, saling bantu dan menutupi kelemahan masing-masing,’’ kata eks Ketua DPRD Kabupaten Mukomuko ini.
Caleg nomor urut 1 ini mengaku bangga karena seluruh caleg NasDem di  Dapil II aktif bergerak dan punya kemampuan. Tentang anggapan banyak orang, NasDem parpol paling berpeluang menang, terkhusus di Dapil II karena dihuni oleh tokoh ternama, seperti dirinya, HM Maril, Wagiran dan lainnya, Sabar enggan ambil pusing.
‘’Kata orang caleg NasDem hebat-hebat, mungkin saja iya. Namun yang pasti kami tidak terpengaruh atas ungkapan itu. Semua harus berusaha, sebab tidak ada caleg yang tak berpeluang, selagi berusaha,’’ tegasnya.
Wagiran sendiri mengakui, mereka selalu berusaha mencari dukungan, baik saat bersama-sama maupun bergerak sendiri-sendiri. Persaingan yang mereka utamakan dengan caleg asal partai lain. Sesama caleg NasDem mereka selalu menjalin kebersamaan dan saling mengingatkan dan menutupi. Karena dengan demikian, target memenangi pemilu bisa dicapai.
‘’Kita kompak berusaha mencari dukungan sebanyak-banyaknya sesuai kemampuan dan kesempatan yang ada. Kita partai baru, perlu banyak sosialisasi dan juga kerja keras agar mendapat dukungan,’’ tutupnya.(jar)

NasDem: Pelanggaran Pemilu Tak Tersentuh
POLITIK RM – Berbagai dugaan pelanggaran diduga terus terjadi yang dilakukan oleh para peserta pemilu maupun timnya. Diantaranya dugaan money politik, berupa bagi-bagi uang, barang hingga pengoralan jalan dalam desa oleh caleg. Namun sayangnya sejauh ini petugas yang diberi kewenangan untuk menindaklanjuti masalah ini, belum mampu menjalankan fungsinya.
Disampaikan oleh Sekjen Dewan Pimpinan Daerah (DPD) NasDem Kabupaten Mukomuko, Musfar  Rusli, bukan rahasia lagi, isu caleg bagi-bagi dan caleg bantu pengoralan jalan tersebut, bahkan terjadi di semua dapil. Ini sesuai aturan pemilu yang ditetapkan, jelas-jelas pelanggaran, namun sampai sejauh ini, tidak ada satupun yang diproses .
‘’Sebetulnya bukan sekedar isu lagi, semua sudah mengetahui caleg  serak koral jalan dan bagi-bagi uang hingga barang. Namun sayang kenapa tidak ada proses terhadap pelanggaran ini,’’ kata Musfar.
Soal jawaban tidak ada laporan, menurut Musfar bukan jawaban seorang petugas yang dibayar dengan uang Negara. Ditetapkan ada pengawas pemilu hingga ke tingkat desa untuk melakukan pengawasan langsung bukan menunggu laporan. Ia menduga petugas belum menguasai apa yang harus ia kerjakan, lantaran kurang diberi pelatihan tentang pemilu ini.
‘’Nampaknya Panwalu perlu memberi pelatihan kepada petugasnya di bawah, baik panwcam atau PPL. Kalau mereka tidah tahu ada pelanggaran tidak mungkin, hanya kurang dilatih dan belum serius,’’ tegas Musfar.
Eks Ketua DPRD Mukomuko, H. Paulus Sabar Sudibyo, S.Sos juga mengakui dugaan pelanggaran pemilu itu terjadi saat ini. Diantaranya di Dapil II  ada informasi pengoralan jalan oleh caleg. Termasuk isu caleg bagi-bagi sudah biasa. Namun untuk sekarang, tindakan seperti itu masuk dalam kategori pelanggaran pemilu atau tidak, ia belum tahu pasti.
‘’Makanya kita tanyakan, apakah tindakan semcan itu pelanggaran atau tidak, kalau ia kenapa tidak ada tindak lanjutnya. Namapnya harus ada sosialisasi lebih intens dari pelaksana pemilu kepada caleg atau petugasnya,’’ tutup Sabar.(jar)