Monday, 1 April 2013

120 Imigran Gelap Ditampung di Posko


//Kabur dari Negara Sri Lanka
AIR RAMI – Semenjak terdampar di pantai perairan Kecamatan Air Rami, Kabupaten Mukomuko pada Kamis (28/3) sore, hingga kemarin sebanyak 120 orang imigran gelap asal Negara Sri Lanka masih menetap. Rincinya, pria dewasa 55 orang, wanita dewasa 35 orang dan anak-anak 20. 
Dari 120 orang imigran, hingga berita ini diturunkan, 35 orang berhasil dievakuasi dari dalam kapal menuju ke daratan. Rencananya, keseluruhan imigran tersebut akan diberi tempat bermalam di sebuah posko darurat yang terbuat dari tenda yang diberikan oleh Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) kabupaten di tepi pantai.
‘’Sampai pihak kantor imigrasi Medan tiba, untuk kebutuhan makan mereka (imigran, red) kita tanggung. Dari konfirmasi kepada kita, mereka (petugas kantor imigrasi, red) tiba di sini (Air Rami, red) hari minggu atau paling lambat senin. Kita juga akan mendirikan tenda posko untuk tempat bermalam mereka (imigran, red). Dalam penanganan mereka kita berbagi tugas dengan pihak kepolisian, koramil, puskesmas dan kecamatan,’’ terang Kadinsosnakertrans, HM Badri Rusli, SH didampingi Koordinator Tagana, Despardi yang langsung memimpin dan memantau jalannya evakuasi di lapangan.
Despardi menambahkan bahwa sebelum akhirnya bersedia turun dari kapal, para imigran itu bersikeras untuk berdiam diri. Diperkirakan mereka khawatir tidak disambut baik oleh penduduk lokal.
‘’Tadi siang (kemarin, red), kami bersama pihak polsek, tim basarnas, anggota lanal dan kecamatan mengadakan rapat. Bahasannya mengenai sikap para imigran itu yang tidak mau dievakuasi dari dalam kapal. Tapi ternyata mereka (imigran, red) mau juga turun dengan dijemput menggunakan kapal nelayan di sini (Air Rami, red),’’ terang Despardi.
Masih disampaikan Despardi, ia bersama pimpinannya, Badri Rusli dan tim sempat berlayar ke kapal untuk melihat secara langsung kondisi para imigran.  
‘’Kondisi kapalnya sangat memprihatinkan. Selain dari ruang nahkoda, tidak ada atap. Jadi mereka ada yang menggunakan kain sarung, terpal dan peralatan lain untuk menutupi mereka dari hujan panas. Yang lebih memprihatinkan lagi, ada anak-anak diantara mereka itu,’’ kata Despardi.
Berdasarkan keterangan yang didapat Radar Mukomuko (RM) dari sejumlah imigran, tujuan mereka melarikan diri dari negara asal mereka dan nekat mengarungi ganasnya lautan tak lain untuk mencari suaka atau perlindungan. Dalam hal ini tujuan mereka ke Negara Australia.
Mereka sudah lelah menghadapi situasi konflik dan peperangan yang berlangsung sejak lama.
‘’Kami ini ingin mencari suaka ke Australia. Di negara kami terus menerus dilanda konflik dan peperangan. Kami pergi bersama suami dan anak dan warga lain. Kami ada membawa persediaan makanan, air, obat dan lain-lain. Tapi selama dalam perjalanan, semuanya sudah habis,’’ ungkap Razi, salah seorang imigran perempuan yang belakangan diketahui sebagai seorang dokter.
Sebelum akhirnya terdampar di perairan Kabupaten Mukomuko, para imigran tersebut sempat singgah di perairan Negara India. Namun kedatangan mereka ditolak hingga akhirnya mereka terpaksa berlayar lagi. 
‘’Sebelum ke sini (Air Rami, red) kami sempat berlabuh di India. Tapi kami tidak diterima. Kami sudah 25 hari berada di lautan. Persediaan kami sudah habis, termasuk bahan bakar kapal. Kami keluar dari negara kami untuk menyelamatkan diri, meminta suaka. Masih banyak orang-orang di sana (Sri Lanka, red) yang juga mencoba keluar karena sudah tidak tahan lagi,’’ kata imigran lain saat diinterogasi oleh Kapolsek Ipuh, Iptu. Priyo Suhartono dengan menggunakan bahasa Inggris.
Dandim 0423 BU, Letkol Inf. Taruna Jaya melalui Danramil 0423-02 Ipuh, Kapten Inf. Eddy Prayitno turut menjelaskan bahwa jajarannya sejak awal kedatangan para imigran telah mengamankan lokasi serta membantu jalannya evakuasi. 
Terkait kondisi salah seorang imigran anak-anak yang sakit dan sempat ditangani di Puskesmas Air Rami, Sekcam Air Rami, Cartu, S.Pd menerangkan, anak tersebut sudah berangsur membaik. Dari keterangan pihak puskesmas, ia mengidap panas dalam.
‘’Sekarang (kemarin, red) sudah kembali ke posko bergabung dengan keluarganya dan imigran lain. Kita akan terus memantau perkembangan para imigran di posko sampai ada kejelasan mengenai nasib mereka,’’ terang Cartu.(tim)