Friday, 15 April 2016

Mukomuko, Puluhan Balok A Diamankan


//Hasil Penelusuran TNI, Polri, PT.SBI dan KPHP
V KOTO – Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, kemarin tim patroli Hutan Produksi Terbatas (HPT) kembali bergerak. Tim yang berjumlah 20 orang ini terdiri dari anggota TNI, Polri, PT. Sipef Biodiversity Indonesia (SBI) dan juga dari Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Model Mukomuko. Dimana kemarin tim yang juga diisi crew Radar Mukomuko ini menyusuri sungai Sekendak Besar di wilayah Kecamatan V Koto. Alhasil ditemukan sebanyak 50 batang balok kaleng berkualitas ekspor. 45 batang diantaranya berkode ‘’A’’, 5 batang berkode X, HF dan FV. Belum diketahui apa makna dari kode ini, dugaan sementara merupakan kode pemiliknya. Bisa jadi ini merupakan huruf awal pangkal namanya.
Kronologisnya, pagi kemarin tim bergerak masuk melalui V Koto melalui perkebunan PT. Agromuko Sei Kiang. Tujuannya adalah mencari kayu yang diduga hasil pembalakan HPT dan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) seperti yang dilaporkan warga. Hasilnya tim menemukan 50 kayu balok kaleng yang diduga kuat hasil pembalakan hutan. Saat ditemukan puluhan kayu jenis meranti dan kruing dalam kondisi tersusun rapi didalam sungai dengan kondisi dirakit. Setiap rakitan isi 3 batang log kaleng dengan panjang 7 dan 8 rakit. Supaya tidak hanyut, ujung rakit diikatkan pada pohon. Selanjutnya kayu tidak bertuan ini angkut menuju Markas Komando Rayon Militer (Makoramil) 0423-01 Mukomuko.
Koodinator office PT.SBI wilayah Mukomuko, Sugeng Prantio, S,Hut didampingi asisstant, Rudiyanto, S.Hut menjelaskan sebelum memutuskan melakukan patroli gabungan, pihak PT.SBI mendapat laporan dari warga, bahwa banyak kayu yang diduga hasil illegal logging berada di perairan sungai Sekendak Besar. Menindak lanjuti informasi tersebut, PT.SBI berkoordinasi dengan pihak KPHP Model Mukomuko, TNI dan juga Polri. Hasilnya diputuskan membentuk tim patroli untuk menindak lanjuti informasi yang masuk. Sugeng juga menyampaikan, lokasi penemuan kayu kemarin, berbeda dengan lokasi penemuan kayu akhir bulan lalu. 45 kubik kayu illegal yang ditemukan bulan lalu berada di perairan sungai Manjuto, sedangkan lokasi penemuan kemarin berada di aliran sungai Sekendak besar. Hal ini membuktikan pembalakan hutan terjadi hampir disetiap wilayah aliran sungai.
‘’Kayu yang ditemukan hari ini (Kemarin, red) lokasinya berbeda dengan lokasi penemuan 45 kubik kayu illegal pada 30 Maret lalu. Artinya, penemuan ini membuktikan lokasi pembalakan hutan terjadi di berbagai wilayah,’’ jelas Sugeng.
Sugeng menambahkan, besar kemungkinan kayu yang sama masih banyak di hulu sungai Sekendak dan Manjuto. Ia juga menyampaikan tim akan terus bergerak menelusuri tempat-tempat yang diduga menjadi penyimpanan kayu hasil perambahan hutan. Langkah ini diambil untuk menekan terjadinya illegal logging. Sugeng juga menyampaikan, sesuai dengan Intruksi Presiden (Inpres) nomor 4 Tahun 2005 tentang pemberantasan penebangan kayu secara illegal di kawasan hutan dan peredarannya di seluruh wilayah republik Indonesia, menjadi tanggungjawab bersama, antara Jaksa Agung, Panglima Tentara Nasional Negara, Kepala Badan Intelijen Indonesia, para gubernur dan bupati serta 12 menteri terkait.
‘’Memberantas illegal logging menjadi tanggungjawab bersama. Maka ketika kita melakukan operasi melibatkan banyak pihak. Sesuai dengan kondisi yang ada di Mukomuko, yang sering dilibatkan dalam patroli HPT tim terdiri dari KPHP, TNI dan Polri, termasuk pihak PT.SBI. Tim akan terus bergerak untuk menekan terjadinya illegal logging. Kalau memungkinkan sampai tidak ada lagi illegang logging di Mukomuko,’’ tambah Sugeng.
Kepala KPHP Model Mukomuko, Jasmin Sinaga, S.Sos melalui kepala Tata Usaha, M.Rizon, S.Hut, M.Si menyampaikan, karena tidak ditemukan pemiliknya, kayu yang ada diamankan.
‘’Untuk proses hukum tidak bisa dilakukan, karena saat ditemukan tidak ada pemiliknya, ini menjadi kayu temuan, kita amankan dulu,’’ pungkas Rizon.(dul)