Tuesday, 23 October 2012

FAKTA

Dibalik Layar
BEKERJA  dibawah komando enak tidak enak pasti akan terus dilakoni oleh seorang awak media.Tujuannya jelas, untuk mempertajam gerak seorang jurnalis dalam menangkap informasi yang tersimpan rapi di bawah pengawalan penjajah kebenaran serta mengungkap pesan dari senyum simpul seorang penguasa atau eksekutor aturan dan anggaran.
Namun kala awak media kehilangan kebebasan, tinta berpihak kepada pemilik power yang mampu memberi jampi-jampi kepada kapten sebuah media. Hingga sang kapten tak lagi berpihak kepada pion-pionnya dihadapan para penguasa, ini adalah malapetaka bagi seorang jurnalis dan publik. Pertanyaannya jika media sudah tidak lagi bisa diharapkan publik, siapa lagi yang bisa diharapkan? Pilihan kekuatan selanjutnya : JIN BAIK, HANTU ISLAM, PAMPIR PENOLONG, ARWAH  ANTI KORUP, SATRIA BAJA HITAM?? atau Jaka Tingkir, Wiro Sableng, Sibuta dari Gua Hantu dan Pendekar kayangan lainnya.
SEBAB selama ini, mayarakat telah terlalu memberi predikat, Media sebagai pendekar baru yang dapat mengimbangi power Eksekutif, Legislatif, Yudikatif termasuk Pemodal Swasta yang kerap mengecewakan mereka.Sebagai bukti pengaruh dan kesaktian media memberi keseimbangan, para penguasa masih yang melakukan kesalahan berupaya serapi mungkin agar tidak tercium media.
FAKTA nyata kemampuan media, untuk memberi kendali, masyatakat masih sangat percaya dan mempercayai media masih dapat diandalkan. Pertama sebagai alat protes kepada penguasa dan pihak lainnya, juga untuk menyampaikan keluh kesah tentang derita yang terjadi sekitar mereka untuk dibagikan kepada orang lain.
INGAT selagi media bisa memberi harapan, sebuah kesalahan yang dilakukan media dengan mudah dimaafkan publik. Namun jika mereka sudah tak punya harapan, setetes kesalahan media bisa mereka jadikan banjir bandang yang menakutkan.
Berharap semoga media kita tetap independen. Yakinlah masyarakat siap membentenginya media dari kekuaran arwah dan macan tutul sekalipun...!!!

TTD

Warga Kampung




 Catatan Wartawan RM dari UKW
//Mulai dari Wartawan Muda Hingga Senior ‘’Keringat Dingin’’
PELAKSANAAN Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang diselenggarakn Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Bengkulu dengan mendatangkan 7 penguji dari PWI pusat yang berlangsung 2 hari di Hotel Nala Sea Side, Kota Bengkulu telah berakhir pada sore Rabu (12/12) lalu. Dari 48 Pesrta yang terdaftar hanya 43 yang ikut dan hasil akhir 37 wartawan dinyatakan berkompeten sedangkan  6 lagi tidak berkompeten. Mereka terdiri dari 1 peserta Utama, 2 Peserta Madya dan 3 dari Peserta Muda. Seperti apa jalannya UKW yang mencetak wartawan berkualitas serta profesional itu, berikut laporan wartawan Radar Mukomuko (RM)

AMRIS TANJUNG, Kota Bengkulu

UKW Dibuka pada Pukul 13.00 WIB Selasa (11/12), oleh Kepala PWI Pusat diwakili Balitbang PWI, Widodo Asmowiyoto. Setelah selesai pembukaan, para jurnalis yang datang dari 9 kabupaten 1 kota, termasuk RM mengutus 1 wartawannya, Amris Tanjung dibagi dalam 3 kelompok, yaitu Muda, Madya dan Utama. Selanjutnya tiga jenjang ini dijadikan 3 kelompok kerja. Masing-masing kelompok diuji oleh 1 orang penguji PWI yang terdiri dari Djunaidi Tjunti Agus, Uyun Achadiat, E Soebekti, Usman Yatim, Banjar Chaeruddin, Widodo Asmowiyoto dan Yusuf M Said.
Sejak itu para peserta mulai kasak-kusuk, bahkan ada pula yang sampai keringan dingin menghadapi penguji yang tak pernah memandang tua, muda, junior atau wartawan senior ini. Meski sudah bergelut dengan dunia jurnalis hingga puluhan tahun, tetap saja mereka tapak tegang bahkan tak jarang garut-garut kepala melaksanakan perintah penguji masing-masing. Dalam waktu singkat para peserta diminta menyiapkan berbagai bahan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Diantaranya memikirkan bahan berita, merumuskan berita, hingga menentukan berita utama atau Healine, berita kedua hingga kolom yang pas bagi sebuah berita menurut isu yang diangkat hingga membentuk sebuah koran.
7 meteri ujian terasa sulit, namun yang paling menegangkan saat diminta menghubungi narasumber, merumuskan berita investigasi dan membuat berita feature dalam waktu hanya 30 menit.
Pada tahapan ini ada peserta yang ‘’angkat tangan’’ dan mengundurkan diri. Salah satunya Sumaryono dari kelompok madya. Namun demikian sebagian peserta tetap semangat, sebab lolos kompetensi sangat penting bagi seorang wartawan, sebagai pembuktian kemampuan dan profesionalitasnya selaku awak media. Bahkan kedepannya seorang narasumber berhak menolak seorang wartawan yang tidak lolos kompetensi.
‘’Saya sudah menjadi wartawan selama 19 tahun, kalau sistim penilaiannya betul-betul ketat kemungkinan besar tidak lolos. Kami sangat salut banyak hal yang mengejutkan dan membuat bingung. Ini jadi pelajaran berharga untuk kedepannya bagi kami,’’ kata H Warsiman saat menyampaikan sambutan mewakili peserta UKW lainnya.
Acara UKW berakhir Pukul 16.00 WIB, Rabu (12/12), para peserta tampak menunggu pengumuman hasilnya. Sayang belum disampaikan siapa yang tak berkompeten dan tidak, hanya disampaikan 37 peserta yang berhasil, 6 lainnya bisa ikut pada periode berikutnya. Nama-nama peserta yang lulus dan tidak akan disampaikan dalam waktu dekat. Para peserta, panitia dan tim penguji mengahiri kebersamaannya dengan berpoto-poto hingga salam-salaman. Setiap peserta merasa ada kebanggaan tersendiri setelah selesai acara.
‘’Bagi yang berlum berhasil bisa kembali ikut pada waktu mendatang, mudahan kita makin profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Saya berharap tim penguji tidak kapok datang ke Bengkulu untuk melakukan uji kompetensi lanjutan,’’ papar pemegang pucuk pimpinan Bengkulu Ekspress (BE), Soekatno, S.Pd ini.
Sementara itu perwakilan tim penguji dari PWI Pusat, Djunaidi Tjunti Agus mengatakan UKW sangat penting, dalam rangka membedakan mana wartawan beneran dan asal-asalan, yang kerap disebut Wartawan Tanpa Surat Kabar (WTS), cuma nengok-nengok (CNN), Cuma Ingin Absen (CIA) dan lainnya. Sebab ulah wartawan tak jelas ini, menyebabkan citra jurnalis buruk di mata masyarakat. Narasumber berhak menolak wartawan yang tidak berkompeten atau yang belum mempunyai sertifikasi.(**)