Monday, 29 April 2013
Sunday, 21 April 2013
Gerbang Money Politik 2014 ‘’Wani Piro’’
Oleh : Amris Tanjung
MONEY POLITIK atau politik uang agaknya akan menjadi isu yang paling hangat pada pemilu legislatif 2014 mendatang. Modus bisa jadi beragam, mulai dari pembagian sembako, penyerahan bantuan, pembagian uang secara langsung dan berbagai cara lainnya. Namun yang paling menarik, menurut penulis adalah politik uang melalui pihak tertentu, mungkin untuk mudahnya diberi nama ‘’Agen Suara’’. Sang agen biasanya mengklaim adalah pentolan dalam suatu kelompok masyarakat karena ia biasa bersuara lantang.
Dengan memanfaatkan caleg ber-uang, sang agen datang menawarkan suara dengan jumlah cukup banyak. Caleg yang tengah berjuang menuju kursi wakil rakyat tentu tidak mau kehilangan kesempatan. Tidak sulit bagi si Agen untuk menggelontorkan isi dompet caleg. Cukup memberi gambaran mengenai jumlah pemilih dan mengklaim bisa diatur, asal sanggup bayar berapa ‘’Wani Piro’’, maka kerjapun beres.
Besar kemungkinan melihat dari gerak-gerik politisi sekarang, akan bermunculan ‘’Agen suara’’ jelang pemilihan 2014. Tinggal lagi si politisi memahami atau tidak kondisi di lapangan. Sebab bisa jadi si Agen betul-betul bisa membuktikannya lantaran ia punya pengaruh, namun dipastikan lebih banyak, agen, yang sekedar mencari uang. Seorang agen bisa berkomunikasi dengan lebih dari 2 orang caleg.
Apakah seorang caleg percaya dan menggunakan jasa sang agen, berapa hitungan per pemilih?. Jawaban pastinya ada pada masing-masing politisi itu sendiri. Dari isu yang berkembang bajad yang ditawarkan para agen Rp 100 rb hingga Rp 150 ribu untuk satu suara. Soal bayar jelas di depan atau sebelum pemilihan.
Terus apakah masyarakat setuju dengan isu ini? dari penelusuran RM, nampaknya sangat besar resiko yang diambil caleg yang siap bayar. Sebab sebagian besar masyarakat sudah menetapkan siapa yang akan mereka pilih di 2014. Apapun alasannya suara mereka adalah untuk caleg dari kelompok atau orang yang punya hubungan baik dengannya dan dapat dipercaya. Bahkan mengenai ada pihak tertentu yang mampu mengendalikan sekelompok masyarakat juga tidak bisa dipercaya. Sebab pemilihan dilakukan secara rahasia.
Namun bukan rahasia, ada sebagian masyarakat siap memilih dengan diberi uang atau barang. Terutama mereka yang merasa kecewa dengan anggota dewan selama ini. Setelah dibela dan dukung dengan Cuma-Cuma, kala duduk tidak lagi menunjukkan batang hidungnya. Janji politik yang pernah dilontarkan cair tanpa kepastian. Keputusan pemilih yang demikian, ‘’Siapapun yang duduk silahkan saja, yang jelas kami ingin bukti’’ hari ini berupa pemberian dari sang caleg.
Pertanyaannya, jika ada 2 atau 3 caleg yang memberikan mereka uang, siapa yang akan dipilih?. Hanya yang maha kuasa mengetahui tentang itu semua. Arti kata, caleg jangan berharap banyak suara dari hasil merayu orang yang baru dikenal atau memang tidak punya kedekatan secara histori. Namun salah juga kala seorang caleg tidak berusaha untuk mencari dukungan. Sebab seorang dewan bukan utusan keluarga melainkan utusan rakyat.
Gambaran ini hanya sebatas perkiraan. Bukan tidak mungkin 2014 akan dijadikan awal kebangkitan bagi masyarakat untuk betul-betul mengangkat dewan yang berkualitas untuk membela mereka. Sebab beberapa caleg yang diusung parpol cukup dikenal masyarakat sepak terjangnya. Diantaranya dari tokoh agama, kades, tokoh muda dan juga berbagai penggiat kegiatan sosial lainnya.(**)
MONEY POLITIK atau politik uang agaknya akan menjadi isu yang paling hangat pada pemilu legislatif 2014 mendatang. Modus bisa jadi beragam, mulai dari pembagian sembako, penyerahan bantuan, pembagian uang secara langsung dan berbagai cara lainnya. Namun yang paling menarik, menurut penulis adalah politik uang melalui pihak tertentu, mungkin untuk mudahnya diberi nama ‘’Agen Suara’’. Sang agen biasanya mengklaim adalah pentolan dalam suatu kelompok masyarakat karena ia biasa bersuara lantang.
Dengan memanfaatkan caleg ber-uang, sang agen datang menawarkan suara dengan jumlah cukup banyak. Caleg yang tengah berjuang menuju kursi wakil rakyat tentu tidak mau kehilangan kesempatan. Tidak sulit bagi si Agen untuk menggelontorkan isi dompet caleg. Cukup memberi gambaran mengenai jumlah pemilih dan mengklaim bisa diatur, asal sanggup bayar berapa ‘’Wani Piro’’, maka kerjapun beres.
Besar kemungkinan melihat dari gerak-gerik politisi sekarang, akan bermunculan ‘’Agen suara’’ jelang pemilihan 2014. Tinggal lagi si politisi memahami atau tidak kondisi di lapangan. Sebab bisa jadi si Agen betul-betul bisa membuktikannya lantaran ia punya pengaruh, namun dipastikan lebih banyak, agen, yang sekedar mencari uang. Seorang agen bisa berkomunikasi dengan lebih dari 2 orang caleg.
Apakah seorang caleg percaya dan menggunakan jasa sang agen, berapa hitungan per pemilih?. Jawaban pastinya ada pada masing-masing politisi itu sendiri. Dari isu yang berkembang bajad yang ditawarkan para agen Rp 100 rb hingga Rp 150 ribu untuk satu suara. Soal bayar jelas di depan atau sebelum pemilihan.
Terus apakah masyarakat setuju dengan isu ini? dari penelusuran RM, nampaknya sangat besar resiko yang diambil caleg yang siap bayar. Sebab sebagian besar masyarakat sudah menetapkan siapa yang akan mereka pilih di 2014. Apapun alasannya suara mereka adalah untuk caleg dari kelompok atau orang yang punya hubungan baik dengannya dan dapat dipercaya. Bahkan mengenai ada pihak tertentu yang mampu mengendalikan sekelompok masyarakat juga tidak bisa dipercaya. Sebab pemilihan dilakukan secara rahasia.
Namun bukan rahasia, ada sebagian masyarakat siap memilih dengan diberi uang atau barang. Terutama mereka yang merasa kecewa dengan anggota dewan selama ini. Setelah dibela dan dukung dengan Cuma-Cuma, kala duduk tidak lagi menunjukkan batang hidungnya. Janji politik yang pernah dilontarkan cair tanpa kepastian. Keputusan pemilih yang demikian, ‘’Siapapun yang duduk silahkan saja, yang jelas kami ingin bukti’’ hari ini berupa pemberian dari sang caleg.
Pertanyaannya, jika ada 2 atau 3 caleg yang memberikan mereka uang, siapa yang akan dipilih?. Hanya yang maha kuasa mengetahui tentang itu semua. Arti kata, caleg jangan berharap banyak suara dari hasil merayu orang yang baru dikenal atau memang tidak punya kedekatan secara histori. Namun salah juga kala seorang caleg tidak berusaha untuk mencari dukungan. Sebab seorang dewan bukan utusan keluarga melainkan utusan rakyat.
Gambaran ini hanya sebatas perkiraan. Bukan tidak mungkin 2014 akan dijadikan awal kebangkitan bagi masyarakat untuk betul-betul mengangkat dewan yang berkualitas untuk membela mereka. Sebab beberapa caleg yang diusung parpol cukup dikenal masyarakat sepak terjangnya. Diantaranya dari tokoh agama, kades, tokoh muda dan juga berbagai penggiat kegiatan sosial lainnya.(**)
Tuesday, 2 April 2013
Mukomuko Baru-Baru Ini
Pelantikan PPK Mukomuko oleh kerua KPU
===========================================================
Gerobak Tua Puskesmas Mukomuko
Monday, 1 April 2013
120 Imigran Gelap Ditampung di Posko
//Kabur dari Negara Sri Lanka
AIR RAMI – Semenjak terdampar di pantai perairan Kecamatan Air Rami, Kabupaten Mukomuko pada Kamis (28/3) sore, hingga kemarin sebanyak 120 orang imigran gelap asal Negara Sri Lanka masih menetap. Rincinya, pria dewasa 55 orang, wanita dewasa 35 orang dan anak-anak 20.
Dari 120 orang imigran, hingga berita ini diturunkan, 35 orang berhasil dievakuasi dari dalam kapal menuju ke daratan. Rencananya, keseluruhan imigran tersebut akan diberi tempat bermalam di sebuah posko darurat yang terbuat dari tenda yang diberikan oleh Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) kabupaten di tepi pantai.
‘’Sampai pihak kantor imigrasi Medan tiba, untuk kebutuhan makan mereka (imigran, red) kita tanggung. Dari konfirmasi kepada kita, mereka (petugas kantor imigrasi, red) tiba di sini (Air Rami, red) hari minggu atau paling lambat senin. Kita juga akan mendirikan tenda posko untuk tempat bermalam mereka (imigran, red). Dalam penanganan mereka kita berbagi tugas dengan pihak kepolisian, koramil, puskesmas dan kecamatan,’’ terang Kadinsosnakertrans, HM Badri Rusli, SH didampingi Koordinator Tagana, Despardi yang langsung memimpin dan memantau jalannya evakuasi di lapangan.
Despardi menambahkan bahwa sebelum akhirnya bersedia turun dari kapal, para imigran itu bersikeras untuk berdiam diri. Diperkirakan mereka khawatir tidak disambut baik oleh penduduk lokal.
‘’Tadi siang (kemarin, red), kami bersama pihak polsek, tim basarnas, anggota lanal dan kecamatan mengadakan rapat. Bahasannya mengenai sikap para imigran itu yang tidak mau dievakuasi dari dalam kapal. Tapi ternyata mereka (imigran, red) mau juga turun dengan dijemput menggunakan kapal nelayan di sini (Air Rami, red),’’ terang Despardi.
Masih disampaikan Despardi, ia bersama pimpinannya, Badri Rusli dan tim sempat berlayar ke kapal untuk melihat secara langsung kondisi para imigran.
‘’Kondisi kapalnya sangat memprihatinkan. Selain dari ruang nahkoda, tidak ada atap. Jadi mereka ada yang menggunakan kain sarung, terpal dan peralatan lain untuk menutupi mereka dari hujan panas. Yang lebih memprihatinkan lagi, ada anak-anak diantara mereka itu,’’ kata Despardi.
Berdasarkan keterangan yang didapat Radar Mukomuko (RM) dari sejumlah imigran, tujuan mereka melarikan diri dari negara asal mereka dan nekat mengarungi ganasnya lautan tak lain untuk mencari suaka atau perlindungan. Dalam hal ini tujuan mereka ke Negara Australia.
Mereka sudah lelah menghadapi situasi konflik dan peperangan yang berlangsung sejak lama.
‘’Kami ini ingin mencari suaka ke Australia. Di negara kami terus menerus dilanda konflik dan peperangan. Kami pergi bersama suami dan anak dan warga lain. Kami ada membawa persediaan makanan, air, obat dan lain-lain. Tapi selama dalam perjalanan, semuanya sudah habis,’’ ungkap Razi, salah seorang imigran perempuan yang belakangan diketahui sebagai seorang dokter.
Sebelum akhirnya terdampar di perairan Kabupaten Mukomuko, para imigran tersebut sempat singgah di perairan Negara India. Namun kedatangan mereka ditolak hingga akhirnya mereka terpaksa berlayar lagi.
‘’Sebelum ke sini (Air Rami, red) kami sempat berlabuh di India. Tapi kami tidak diterima. Kami sudah 25 hari berada di lautan. Persediaan kami sudah habis, termasuk bahan bakar kapal. Kami keluar dari negara kami untuk menyelamatkan diri, meminta suaka. Masih banyak orang-orang di sana (Sri Lanka, red) yang juga mencoba keluar karena sudah tidak tahan lagi,’’ kata imigran lain saat diinterogasi oleh Kapolsek Ipuh, Iptu. Priyo Suhartono dengan menggunakan bahasa Inggris.
Dandim 0423 BU, Letkol Inf. Taruna Jaya melalui Danramil 0423-02 Ipuh, Kapten Inf. Eddy Prayitno turut menjelaskan bahwa jajarannya sejak awal kedatangan para imigran telah mengamankan lokasi serta membantu jalannya evakuasi.
Terkait kondisi salah seorang imigran anak-anak yang sakit dan sempat ditangani di Puskesmas Air Rami, Sekcam Air Rami, Cartu, S.Pd menerangkan, anak tersebut sudah berangsur membaik. Dari keterangan pihak puskesmas, ia mengidap panas dalam.
‘’Sekarang (kemarin, red) sudah kembali ke posko bergabung dengan keluarganya dan imigran lain. Kita akan terus memantau perkembangan para imigran di posko sampai ada kejelasan mengenai nasib mereka,’’ terang Cartu.(tim)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kader PDIP Mukomuko Bawa Randang Untuk Megawati
METRO – Seperti diinformasikan, besok (5/2) Presiden Joko Widodo bersama, megawati, Ketua DPR RI Puan Maharani dan Kemensos akan datang k...
-
Inspektorat : Diakuinya Satu Kali METRO – Ujian berat tengah dihadapi oleh dunia pendidikan Kabupaten Mukomuko dan merupakan pukulan bagi p...
-
Pemilihan Bupati 2020 MUKOMUKO – Semakin dekatnya perhelatan pemilihan bupati dan wakil bupati Mukomuko, nama-nama tokoh yang benar...
-
Kerja Keras dan Cerdas KARMADI, SH lahir di Desa Pondok Lunang 8 Oktober 1980. Merupakan salah satu anggota dewan termuda di DPRD Muk...

